Welcome to my blog =D

Di blog ini, aku naruh berbagai hasil karya aku bahkan sampai sedikit curhatan tentang keseharianku. Ku harap kalian suka membacanya ^^

Sabtu, 29 Desember 2012

Harus Berubah (Cerbung), by : TSM



Part 6
            Sifa segera menunduk dan berlalu tetapi tangan kanan nya lebih dulu di raih cowok itu. Sifa berusaha melepaskannya tapi tidak bisa, cengkraman cowok itu jauh lebih kuat.

            “Kenapa sih kamu menghindar dari aku? Aku mau jelasin semuanya ke kamu” ujar cowok itu lembut. Sifa hanya menunduk.

            “Apa lagi yang mau di jelasin, hah? Kurang puas lo nyakitin gue?” tanya Sifa dengan suara yang mulai serak, matanya mulai mengeluarkan butiran-butiran airmata. Cowok itu tertegun melihat mata mantan pacarnya yang mulai berkaca-kaca, Sifa benar-benar tersiksa batin.

            “Maafin aku. Aku bener-bener nyesel. Aku emang bodoh, udah nyakitin kamu. Aku nyesel udah ninggalin kamu gitu aja. Aku mau kita mulai dari awal lagi”  ujar si cowok.

            “Heh Ridwan, lo fikir segampang itu maafin lo dan nerima lo lagi? Satu tahun kita pacaran, empat kali putus, tiga kali balikan, empat bulan gue ditinggal. Gue udah terlanjur sakit hati tingkat akut sama lo” ujar Sifa lalu berlalu dari hadapan si mantan yang bernama Ridwan. Sifa berlari kecil menuju kamarnya sambil menahan tangisnya. Ridwan masih berdiri di tempat, dia sadar kalau memang dia yang salah, tidak seharusnya dia menyakiti Sifa, gadis manis yang sangat tulus menyayanginya kini Ridwan benar-benar sangat menyesal.

            Setiba di kamar. Sifa segera melompat ke tempat tidur dan membenamkan kepalanya di bantal, dia menangis. Kenapa di saat Sifa bisa melupakan Ridwan, dia kembali kehidupnya? Sifa yakin, mulai sekarang hidupnya tidak akan bisa setenang dulu lagi, karena Ridwan telah kembali. Sifa yakin, Ridwan akan terus menerornya sampai Sifa mau memaafkannya. Semalaman penuh Sifa menangis histeris, keesokkan paginya matanya bengkak.

            Saat keluar kamar untuk sarapan, tepat saat Arya juga keluar dari kamar. Arya terperangah melihat mata Sifa yang berbeda dengan semalam.
            “Mata lo kenapa?” tanya Arya.
            “Di gigit gajah” jawab Sifa asal lalu berlalu meninggalkan Arya.
            “SIFAA” teriak Mey histeris saat bertemu Sifa di Borobudur sesuai janjinya.
            “Hay” sahut Sifa sambil tersenyum. Arya mengikutinya dari belakang. Setelah berpelukkan, Mey menunduk saat melihat Arya ada di belakang Sifa. Sifa mengangkat dagu Mey lalu menyisyaratkan dengan kepala sambil tersenyum untuk menghampiri kakaknya, Mey mengangguk.
            “Maafin Yanna, kak” ujar Mey lirih.

            “Iya” sahut Arya lembut. Sifa yang melihatnya ikut tersenyum senang lalu dia teringat dengan waktunya yang sangat mendesak.

            “Ehem, sorry ganggu. Kita harus buru-buru tukeran baju, waktu kita gak banyak” ujar Sifa tak enak hati karena merasa menganggu kesenangan kedua bersaudara itu. Mey dan Sifa langsung bertukar pakaian, setelah itu Sifa pamitan.

            “Makasih ya, Mey. Ini semua berkat lo. Kak Arya makasih ya atas semuanya, perhatian lo walau gue tau itu bukan buat gue tapi buat ade lo, karena waktu itu lo gak tau siapa gue. Kak Arya, gue minta ma..” belum selesai bicara Arya langsung menempelkan jari telunjuk kanannya di bibir Sifa.

            “Udah ya ngomongnya. Sumpah gue gak mau denger kata maaf lo lagi, gue kan udah maafin lo. Walaupun gue udah tau siapa lo, lo tetep gue anggap adik gue” ujar Arya lembut sambil mengacak pelan rambut Sifa, mereka saling melempar senyum. Mey memeluk Sifa sambil menangis, Sifa juga ikut terbawa suasana yang sedih ini, mereka akan berpisah.

            “Jangan nangis dong. Kita bakal ketemu lagi” ujar Arya sambil menggenggam tangan Mey dan Sifa. Mereka saling bertatapan.
            “Pasti” ujar mereka serempak sambil tertawa pelan.
            “Gue pergi, ya. Bye” ujar Sifa lalu segera berlari menjauh menuju tempat mamanya berada.

            Setelah puas memutari candi Borobudur, Sifa dan orangtuanya serta adiknya segera menuju sekolah yang dituju dan setelah itu mencari kost-kostan cewek untuk Sifa. Jujur sebenarnya Sifa sedikit kikuk saat bicara dengan mamanya mengingat suratnya tempo hari, makanya hari ini dia hanya bicara seperlunya. Hari ini semuanya udah beres, orangtua Sifa menyerahkan semua urusan anak perempuannya ke seseorang yang sangat di percaya, namanya Pak Usman, dulu pernah bekerja di rumah eyangnya Sifa di Yogya.

            “Kamu jaga diri ya, sayang. Kalau ada yang macem-macem, hajar aja. Jangan lupa makan. Mama pulang dulu, ya” ujar mamanya sebelum pulang, dia mengecup lembut kening Sifa.

            “Iya, ma” jawab Sifa sedikit kikuk. Mereka pun segera pulang ke Jakarta.
            Hari demi hari telah berlalu dan kini Sifa sudah resmi sekolah di sekolah tujuannya. Hari pertama mos, semuanya lancar terkendali sampai di hari ketiga, petaka menghampiri Sifa. Hari ini Sifa bangun kesiangan dan saat menuju sekolah, sepeda Dodo (sahabat baru Sifa) kempes di tengah jalan, mereka terpaksa jalan sampai sekolah. Ternyata gerbang sudah di tutup. Sifa terus membujuk satpam sekolah yang sedang berjaga agar membukanya tapi sia-sia. Sifa dan Dodo hanya bisa pasrah dan duduk bersandar ke gerbang. Baru saja Sifa ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda, tiba-tiba gerbang dibuka dan Sifa terjatuh sedangkan Dodo sudah berdiri saat mengetahui gerbang pelan-pelan mulai terbuka. Sifa meringis kesakitan saat dia terjatuh mendadak.

            Sifa membuka mata dan terlihatlah tubuh jenjang ketua OSIS sedang menatapnya geram. Sifa hanya tersenyum, dia langsung bangun dibantu Dodo.
            “Mana nasgor pesenan gue?” tanya nya to the point ke Sifa. Sifa terbelalak, dia lupa.

            “Maaf kak, ketinggalan” ujarnya sambil menunduk dalam-dalam, dia tidak mau melihat mata elangnya ketua OSIS. Dodo ikut merasa bersalah, seharusnya tadi dia memberi Sifa kesempatan untuk membereskan barang-barang yang harus dibawa, pasti nasgor pesanan ketua OSIS tidak akan ketinggalan.

            “Sebagai gantinya, lo keliling lapangan sepuluh kali terus push up delapan kali di tengah lapangan, hormat bendera tiga jam, sepulang sekolah nanti bersihin toilet. Dan lo, Dodo petik mangga yang udah matang lalu taruh di ruangan OSIS sesudah itu lo petik daun kering di setiap pohon” perintahnya tegas.

            “WHAT???” teriak Sifa histeris. Ketua OSIS menatap tajam Sifa.
            “GAK PAKE PROTES!!” teriaknya gak kalah besar. Sifa dan Dodo sampai tertegun melihat wajah tampan nan sangar ketua OSIS.
            “Do, semangat ya” Sifa memberi support sambil memukul-mukul pundak Dodo.
            “Kamu juga, semangat ya” mereka saling mengangguk dan tersenyum kecut.

            Mereka mulai melaksanakan hukuman masing-masing. Sifa terus mengeluh, gila aja tuh cowok, gak punya otak kali ya masa gue di siksa gini sih? Cowok sarap, liat aja nanti gue bakal bales dendam ujar Sifa kesal dalam hati. Sudah 8 putaran, Sifa menundukkan badannya sebentar, keringat mengucur deras dari keningnya.

            “SIFAA… JANGAN BERHENTI” teriak ketua OSIS, Sifa terloncat kaget mendengarnya.
            “IYA BAWEELL” teriaknya gak kalah kenceng.
            Sifa dan Dodo telah menyelesaikan hukumannya, tapi hukuman Sifa belum usai sampai disini. Kini mereka berada di tengah lapangan, Sifa merebahkan badannya yang lepek karena keringat, sedangkan Dodo lebih memilih duduk karena malu kalau dilihat orang nanti.

            “Tuh cowok gak punya otak kali, ya do? Bisaan gitu ngasih hukuman seekstrim itu?” tanya Sifa sambil menutup matanya, menikmati matahari pagi.
            “Kamu ndak boleh ngomong gitu, fa. Ntar kalau orangnya denger bagaimana?” Sifa langsung membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk sejajar dengan Dodo lalu menatap Dodo dalam.
            “Ya bodo amat. Gue punya hak dong buat koment perbuatan dia” jawab Sifa kesal.
            “Iya juga ya. Kan ndak ada yang larang, ya?” Dodo menyetujui ucapan Sifa barusan sambil mengangguk-angguk. Sifa tersenyum senang. Beruntung juga di hari pertama sekolah ketemu orang macam Dodo, tanpa ragu Sifa langsung menganggap Dodo sebagai sahabat yang paling the best yah walau dilihat dari penampilan dia culun tapi dia orangnya menyenangkan. Bel istirahat telah berbunyi nyaring. Gendis, yang juga sahabat baru Sifa segera menghampiri Sifa setelah mendengar kabar bahwa Sifa dan Dodo berada di lapangan.

            “Kalian ngapain duduk disini? Malu dilihat teman-teman” ujar Gendis setiba di lapangan.
            “Daritadi aku juga udah ngajak Sifa pergi tapi dia ndak mau. Katanya nunggu kamu datang kemari dan dia juga sebodo jadi tontonan teman-teman” jawab Dodo. Gendis menatap Sifa gemas.
            “Kamu ini, fa. Urat malu mu udah putus, ya?” Sifa hanya nyengir kuda sambil mengangguk-angguk. Mereka segera pergi menuju kantin. Setiba di kantin, mereka duduk di tempat biasa dan Gendis memesan makanan. Sifa dan Dodo sedang asik bercanda tiba-tiba seorang cowok duduk di depan mereka. Sifa langsung terbelalak kaget.
            “Rio” yang dipanggil hanya tersenyum manis pada Sifa.
            “Pas tau lo sekolah disini, gue langsung minta pindah sekolah sama nyokap” Rio menjelaskan mengapa dia bisa ada di sekolah yang sama dengan Sifa. Shit, man!
            Sifa kembali memfokuskan dirinya pada Dodo, mencoba untuk mengabaikan kehadiran Rio. Mereka melanjutkan obrolannya.
            “Sif, bisa ngomong sebentar. Please”
            “Apaan sih? Do, gue ke toilet bentar ya” ujar Sifa sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Rio lalu pamit pada Dodo. Rio tersenyum, menurutnya Sifa memberinya kesempatan untuk bicara tapi ternyata tidak, Sifa memang benar-benar ingin ke toilet. Sifa keluar dari toilet, Rio segera mencegatnya. Sifa mencoba menghindar.

            “Mau lo tuh apa sih? Ngapain lo ngikutin gue sampe kesini?” tanya Sifa kesal.
            “Lo kok engga seneng banget sih sama gue? Apa sih salah gue?” bukannya di jawab, Rio malah balik bertanya. Sifa tidak menjawab, dia mencoba pergi dari hadapannya tapi tetap tidak bisa.

            “Eh, Sifa sini lo” perintah ketua OSIS. Oh God, thanks Kau telah mengirimkan satu pelindung untukku ujar Sifa senang dalam hati.
            “I..iya kak” jawab Sifa. Rio tetap keukeh menahan Sifa sampai dia mau menjawab pertanyaannya. Karena ketua OSIS paling tidak suka menunggu, dia menghampiri Sifa dan memukul pelan pundak Rio.
           
“Tolong kasih jalan buat Sifa, ada yang harus dia kerjakan” ujar ketua OSIS tegas. Sepertinya Rio mengenali suara itu dan benar saja, ternyata ketua OSIS adalah sepupunya.
“Elo? Oh jadi lo anak baru nya?” tanya ketua OSIS sinis. Rio hanya mengangguk. Sifa bingung harus berbuat apa.
“Lo ikut gue” perintah ketua OSIS.
“Eitss gak bisa. Dia lagi ada urusan sama gue” ujar Rio, menahan Sifa.
“Eh Rio, gue ketua OSIS disini, jadi lo jangan macem-macem. Ngerti?”
“Eh Raka, lo tuh cuma ketos doang tapi sombongnya selangit. Gue gak akan mempan sama gertak sambel lo itu” ujar Rio menantang Raka. Sepertinya akan terjadi pertempuran, Sifa mulai panik.
“Eh udahan dong udahan. Malu kali diliatin banyak orang” Sifa mencoba memisahkan Rio dan Raka.
“Lo cewek diem aja” ujar mereka serempak. Sifa diam dan memanyunkan bibirnya. Dia mendapatkan ide cemerlang agar tidak terjadi pertempuran antara Rio dan Raka.
“Oke gue diem. Tapi Raka, gue gak akan mau nurutin semua perintah lo dan Rio masalah kita akan terus gantung sampe gue mati nanti” ujar Sifa santai sambil mulai melangkahkan kakinya untuk menjauh dari mereka. Mereka tersentak mendengar ucapan Sifa.
“Oke, kita gak akan bertengkar” Sifa hanya tersenyum kecut mendengar perkataan mereka.
Sifa, Dodo, dan Gendis pulang sekolah bersama jalan kaki. Ban sepeda Dodo masih kempes dan hari ini Gendis tidak bawa sepeda karena sedang di pakai ibu nya, sedangkan Sifa tidak punya. Mereka sedang berjalan sambil bercanda seperti biasanya. Tiba-tiba datang mobil dari samping kiri Sifa, ternyata Raka.
“Ikut gue” perintahnya. Sifa mengabaikannya sambil terus berjalan.
“Lo budek, ya? Gue bilang ikut gue” Sifa menoleh.
“Maaf gue gak bisa karena gue gak bisa ninggalin kedua sahabat gue. Lain waktu aja, ya. Permisi” ujar Sifa manis kemudian berlalu.

Setiba di kostan, Rianna, teman sekamar Sifa sedang bersantai sambil membaca majalah. Sifa melempar senyum kepadanya sambil melepas sepatu. Baru ingin mengganti pakaian, Sifa dipanggil teman kostnya kalau ada tamu yang mau bertemu dengannya. Sifa terbelalak saat mengetahui Rio tamu nya.
“Ngapain lo kesini?” tanya Sifa.
“Aku mau kamu ngejelasin semuanya” jawab Rio.
“Gak ada yang perlu di jelasin” Sifa melempar pendangannya ke taman di halaman depan.
“Ikut gue” Rio menarik paksa Sifa untuk ikut.
Setiba di sebuah kafe, mereka duduk di sudut ruangan. Sifa tetap tidak ingin bicara. Baru saja Rio ingin menyuruh Sifa bicara, ada seseorang memanggil namanya. Rio menoleh dan terbelalak saat mengetahui siapa orang itu, Sifa pun tak kalah kaget apalagi saat mengetahui sosok cowok di sebelah cewek itu.
“Kalian?” tanya Sifa dan Rio tidak percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar