Part 6
Sifa segera menunduk dan berlalu
tetapi tangan kanan nya lebih dulu di raih cowok itu. Sifa berusaha
melepaskannya tapi tidak bisa, cengkraman cowok itu jauh lebih kuat.
“Kenapa sih kamu menghindar dari
aku? Aku mau jelasin semuanya ke kamu” ujar cowok itu lembut. Sifa hanya
menunduk.
“Apa lagi yang mau di jelasin, hah?
Kurang puas lo nyakitin gue?” tanya Sifa dengan suara yang mulai serak, matanya
mulai mengeluarkan butiran-butiran airmata. Cowok itu tertegun melihat mata
mantan pacarnya yang mulai berkaca-kaca, Sifa benar-benar tersiksa batin.
“Maafin aku. Aku bener-bener nyesel.
Aku emang bodoh, udah nyakitin kamu. Aku nyesel udah ninggalin kamu gitu aja.
Aku mau kita mulai dari awal lagi” ujar
si cowok.
“Heh Ridwan, lo fikir segampang itu
maafin lo dan nerima lo lagi? Satu tahun kita pacaran, empat kali putus, tiga
kali balikan, empat bulan gue ditinggal. Gue udah terlanjur sakit hati tingkat
akut sama lo” ujar Sifa lalu berlalu dari hadapan si mantan yang bernama
Ridwan. Sifa berlari kecil menuju kamarnya sambil menahan tangisnya. Ridwan
masih berdiri di tempat, dia sadar kalau memang dia yang salah, tidak
seharusnya dia menyakiti Sifa, gadis manis yang sangat tulus menyayanginya kini
Ridwan benar-benar sangat menyesal.
Setiba di kamar. Sifa segera
melompat ke tempat tidur dan membenamkan kepalanya di bantal, dia menangis. Kenapa
di saat Sifa bisa melupakan Ridwan, dia kembali kehidupnya? Sifa yakin, mulai
sekarang hidupnya tidak akan bisa setenang dulu lagi, karena Ridwan telah
kembali. Sifa yakin, Ridwan akan terus menerornya sampai Sifa mau memaafkannya.
Semalaman penuh Sifa menangis histeris, keesokkan paginya matanya bengkak.
Saat keluar kamar untuk sarapan,
tepat saat Arya juga keluar dari kamar. Arya terperangah melihat mata Sifa yang
berbeda dengan semalam.
“Mata lo kenapa?” tanya Arya.
“Di gigit gajah” jawab Sifa asal
lalu berlalu meninggalkan Arya.
♀ ♥ ♂
“SIFAA” teriak Mey histeris saat
bertemu Sifa di Borobudur sesuai janjinya.
“Hay” sahut Sifa sambil tersenyum.
Arya mengikutinya dari belakang. Setelah berpelukkan, Mey menunduk saat melihat
Arya ada di belakang Sifa. Sifa mengangkat dagu Mey lalu menyisyaratkan dengan
kepala sambil tersenyum untuk menghampiri kakaknya, Mey mengangguk.
“Maafin Yanna, kak” ujar Mey lirih.
“Iya” sahut Arya lembut. Sifa yang
melihatnya ikut tersenyum senang lalu dia teringat dengan waktunya yang sangat
mendesak.
“Ehem, sorry ganggu. Kita harus
buru-buru tukeran baju, waktu kita gak banyak” ujar Sifa tak enak hati karena
merasa menganggu kesenangan kedua bersaudara itu. Mey dan Sifa langsung
bertukar pakaian, setelah itu Sifa pamitan.
“Makasih ya, Mey. Ini semua berkat
lo. Kak Arya makasih ya atas semuanya, perhatian lo walau gue tau itu bukan
buat gue tapi buat ade lo, karena waktu itu lo gak tau siapa gue. Kak Arya, gue
minta ma..” belum selesai bicara Arya langsung menempelkan jari telunjuk
kanannya di bibir Sifa.
“Udah ya ngomongnya. Sumpah gue gak
mau denger kata maaf lo lagi, gue kan udah maafin lo. Walaupun gue udah tau
siapa lo, lo tetep gue anggap adik gue” ujar Arya lembut sambil mengacak pelan
rambut Sifa, mereka saling melempar senyum. Mey memeluk Sifa sambil menangis,
Sifa juga ikut terbawa suasana yang sedih ini, mereka akan berpisah.
“Jangan nangis dong. Kita bakal
ketemu lagi” ujar Arya sambil menggenggam tangan Mey dan Sifa. Mereka saling
bertatapan.
“Pasti” ujar mereka serempak sambil
tertawa pelan.
“Gue pergi, ya. Bye” ujar Sifa lalu
segera berlari menjauh menuju tempat mamanya berada.
Setelah puas memutari candi
Borobudur, Sifa dan orangtuanya serta adiknya segera menuju sekolah yang dituju
dan setelah itu mencari kost-kostan cewek untuk Sifa. Jujur sebenarnya Sifa
sedikit kikuk saat bicara dengan mamanya mengingat suratnya tempo hari, makanya
hari ini dia hanya bicara seperlunya. Hari ini semuanya udah beres, orangtua
Sifa menyerahkan semua urusan anak perempuannya ke seseorang yang sangat di
percaya, namanya Pak Usman, dulu pernah bekerja di rumah eyangnya Sifa di
Yogya.
“Kamu jaga diri ya, sayang. Kalau
ada yang macem-macem, hajar aja. Jangan lupa makan. Mama pulang dulu, ya” ujar
mamanya sebelum pulang, dia mengecup lembut kening Sifa.
“Iya, ma” jawab Sifa sedikit kikuk.
Mereka pun segera pulang ke Jakarta.
♀ ♥ ♂
Hari demi hari telah berlalu dan
kini Sifa sudah resmi sekolah di sekolah tujuannya. Hari pertama mos, semuanya lancar
terkendali sampai di hari ketiga, petaka menghampiri Sifa. Hari ini Sifa bangun
kesiangan dan saat menuju sekolah, sepeda Dodo (sahabat baru Sifa) kempes di
tengah jalan, mereka terpaksa jalan sampai sekolah. Ternyata gerbang sudah di
tutup. Sifa terus membujuk satpam sekolah yang sedang berjaga agar membukanya
tapi sia-sia. Sifa dan Dodo hanya bisa pasrah dan duduk bersandar ke gerbang.
Baru saja Sifa ingin melanjutkan tidurnya yang tertunda, tiba-tiba gerbang
dibuka dan Sifa terjatuh sedangkan Dodo sudah berdiri saat mengetahui gerbang
pelan-pelan mulai terbuka. Sifa meringis kesakitan saat dia terjatuh mendadak.
Sifa membuka mata dan terlihatlah
tubuh jenjang ketua OSIS sedang menatapnya geram. Sifa hanya tersenyum, dia
langsung bangun dibantu Dodo.
“Mana nasgor pesenan gue?” tanya nya
to the point ke Sifa. Sifa terbelalak, dia lupa.
“Maaf kak, ketinggalan” ujarnya
sambil menunduk dalam-dalam, dia tidak mau melihat mata elangnya ketua OSIS.
Dodo ikut merasa bersalah, seharusnya tadi dia memberi Sifa kesempatan untuk
membereskan barang-barang yang harus dibawa, pasti nasgor pesanan ketua OSIS
tidak akan ketinggalan.
“Sebagai gantinya, lo keliling
lapangan sepuluh kali terus push up delapan kali di tengah lapangan, hormat
bendera tiga jam, sepulang sekolah nanti bersihin toilet. Dan lo, Dodo petik
mangga yang udah matang lalu taruh di ruangan OSIS sesudah itu lo petik daun
kering di setiap pohon” perintahnya tegas.
“WHAT???” teriak Sifa histeris.
Ketua OSIS menatap tajam Sifa.
“GAK PAKE PROTES!!” teriaknya gak
kalah besar. Sifa dan Dodo sampai tertegun melihat wajah tampan nan sangar
ketua OSIS.
“Do, semangat ya” Sifa memberi support
sambil memukul-mukul pundak Dodo.
“Kamu juga, semangat ya” mereka
saling mengangguk dan tersenyum kecut.
Mereka mulai melaksanakan hukuman
masing-masing. Sifa terus mengeluh, gila
aja tuh cowok, gak punya otak kali ya masa gue di siksa gini sih? Cowok sarap,
liat aja nanti gue bakal bales dendam ujar Sifa kesal dalam hati. Sudah 8
putaran, Sifa menundukkan badannya sebentar, keringat mengucur deras dari
keningnya.
“SIFAA… JANGAN BERHENTI” teriak
ketua OSIS, Sifa terloncat kaget mendengarnya.
“IYA BAWEELL” teriaknya gak kalah
kenceng.
Sifa dan Dodo telah menyelesaikan
hukumannya, tapi hukuman Sifa belum usai sampai disini. Kini mereka berada di
tengah lapangan, Sifa merebahkan badannya yang lepek karena keringat, sedangkan
Dodo lebih memilih duduk karena malu kalau dilihat orang nanti.
“Tuh cowok gak punya otak kali, ya
do? Bisaan gitu ngasih hukuman seekstrim itu?” tanya Sifa sambil menutup
matanya, menikmati matahari pagi.
“Kamu ndak boleh ngomong gitu, fa.
Ntar kalau orangnya denger bagaimana?” Sifa langsung membuka matanya dan
mengubah posisinya menjadi duduk sejajar dengan Dodo lalu menatap Dodo dalam.
“Ya bodo amat. Gue punya hak dong
buat koment perbuatan dia” jawab Sifa kesal.
“Iya juga ya. Kan ndak ada yang
larang, ya?” Dodo menyetujui ucapan Sifa barusan sambil mengangguk-angguk. Sifa
tersenyum senang. Beruntung juga di hari pertama sekolah ketemu orang macam
Dodo, tanpa ragu Sifa langsung menganggap Dodo sebagai sahabat yang paling the
best yah walau dilihat dari penampilan dia culun tapi dia orangnya
menyenangkan. Bel istirahat telah berbunyi nyaring. Gendis, yang juga sahabat
baru Sifa segera menghampiri Sifa setelah mendengar kabar bahwa Sifa dan Dodo
berada di lapangan.
“Kalian ngapain duduk disini? Malu
dilihat teman-teman” ujar Gendis setiba di lapangan.
“Daritadi aku juga udah ngajak Sifa
pergi tapi dia ndak mau. Katanya nunggu kamu datang kemari dan dia juga sebodo
jadi tontonan teman-teman” jawab Dodo. Gendis menatap Sifa gemas.
“Kamu ini, fa. Urat malu mu udah
putus, ya?” Sifa hanya nyengir kuda sambil mengangguk-angguk. Mereka segera
pergi menuju kantin. Setiba di kantin, mereka duduk di tempat biasa dan Gendis
memesan makanan. Sifa dan Dodo sedang asik bercanda tiba-tiba seorang cowok
duduk di depan mereka. Sifa langsung terbelalak kaget.
“Rio” yang dipanggil hanya tersenyum
manis pada Sifa.
“Pas tau lo sekolah disini, gue
langsung minta pindah sekolah sama nyokap” Rio menjelaskan mengapa dia bisa ada
di sekolah yang sama dengan Sifa. Shit,
man!
Sifa kembali memfokuskan dirinya
pada Dodo, mencoba untuk mengabaikan kehadiran Rio. Mereka melanjutkan
obrolannya.
“Sif, bisa ngomong sebentar. Please”
“Apaan sih? Do, gue ke toilet bentar
ya” ujar Sifa sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Rio lalu pamit pada
Dodo. Rio tersenyum, menurutnya Sifa memberinya kesempatan untuk bicara tapi
ternyata tidak, Sifa memang benar-benar ingin ke toilet. Sifa keluar dari
toilet, Rio segera mencegatnya. Sifa mencoba menghindar.
“Mau lo tuh apa sih? Ngapain lo
ngikutin gue sampe kesini?” tanya Sifa kesal.
“Lo kok engga seneng banget sih sama
gue? Apa sih salah gue?” bukannya di jawab, Rio malah balik bertanya. Sifa
tidak menjawab, dia mencoba pergi dari hadapannya tapi tetap tidak bisa.
“Eh, Sifa sini lo” perintah ketua
OSIS. Oh God, thanks Kau telah
mengirimkan satu pelindung untukku ujar Sifa senang dalam hati.
“I..iya kak” jawab Sifa. Rio tetap keukeh
menahan Sifa sampai dia mau menjawab pertanyaannya. Karena ketua OSIS paling
tidak suka menunggu, dia menghampiri Sifa dan memukul pelan pundak Rio.
“Tolong kasih jalan
buat Sifa, ada yang harus dia kerjakan” ujar ketua OSIS tegas. Sepertinya Rio mengenali
suara itu dan benar saja, ternyata ketua OSIS adalah sepupunya.
“Elo? Oh jadi lo anak
baru nya?” tanya ketua OSIS sinis. Rio hanya mengangguk. Sifa bingung harus
berbuat apa.
“Lo ikut gue”
perintah ketua OSIS.
“Eitss gak bisa. Dia
lagi ada urusan sama gue” ujar Rio, menahan Sifa.
“Eh Rio, gue ketua
OSIS disini, jadi lo jangan macem-macem. Ngerti?”
“Eh Raka, lo tuh cuma
ketos doang tapi sombongnya selangit. Gue gak akan mempan sama gertak sambel lo
itu” ujar Rio menantang Raka. Sepertinya akan terjadi pertempuran, Sifa mulai
panik.
“Eh udahan dong
udahan. Malu kali diliatin banyak orang” Sifa mencoba memisahkan Rio dan Raka.
“Lo cewek diem aja”
ujar mereka serempak. Sifa diam dan memanyunkan bibirnya. Dia mendapatkan ide
cemerlang agar tidak terjadi pertempuran antara Rio dan Raka.
“Oke gue diem. Tapi
Raka, gue gak akan mau nurutin semua perintah lo dan Rio masalah kita akan
terus gantung sampe gue mati nanti” ujar Sifa santai sambil mulai melangkahkan
kakinya untuk menjauh dari mereka. Mereka tersentak mendengar ucapan Sifa.
“Oke, kita gak akan
bertengkar” Sifa hanya tersenyum kecut mendengar perkataan mereka.
♀ ♥ ♂
Sifa, Dodo, dan
Gendis pulang sekolah bersama jalan kaki. Ban sepeda Dodo masih kempes dan hari
ini Gendis tidak bawa sepeda karena sedang di pakai ibu nya, sedangkan Sifa
tidak punya. Mereka sedang berjalan sambil bercanda seperti biasanya. Tiba-tiba
datang mobil dari samping kiri Sifa, ternyata Raka.
“Ikut gue”
perintahnya. Sifa mengabaikannya sambil terus berjalan.
“Lo budek, ya? Gue
bilang ikut gue” Sifa menoleh.
“Maaf gue gak bisa
karena gue gak bisa ninggalin kedua sahabat gue. Lain waktu aja, ya. Permisi”
ujar Sifa manis kemudian berlalu.
Setiba di kostan,
Rianna, teman sekamar Sifa sedang bersantai sambil membaca majalah. Sifa melempar
senyum kepadanya sambil melepas sepatu. Baru ingin mengganti pakaian, Sifa
dipanggil teman kostnya kalau ada tamu yang mau bertemu dengannya. Sifa
terbelalak saat mengetahui Rio tamu nya.
“Ngapain lo kesini?”
tanya Sifa.
“Aku mau kamu
ngejelasin semuanya” jawab Rio.
“Gak ada yang perlu
di jelasin” Sifa melempar pendangannya ke taman di halaman depan.
“Ikut gue” Rio
menarik paksa Sifa untuk ikut.
Setiba di sebuah
kafe, mereka duduk di sudut ruangan. Sifa tetap tidak ingin bicara. Baru saja
Rio ingin menyuruh Sifa bicara, ada seseorang memanggil namanya. Rio menoleh
dan terbelalak saat mengetahui siapa orang itu, Sifa pun tak kalah kaget
apalagi saat mengetahui sosok cowok di sebelah cewek itu.
“Kalian?” tanya Sifa
dan Rio tidak percaya.
♀ ♥ ♂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar