Welcome to my blog =D

Di blog ini, aku naruh berbagai hasil karya aku bahkan sampai sedikit curhatan tentang keseharianku. Ku harap kalian suka membacanya ^^

Jumat, 28 Desember 2012

Harus Berubah (Cerbung), by : TSM



Part 5
      Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 wib. Sifa sibuk mondar-mandir dikamar Mey, dia menunggu sms balasan dari Mey. Sudah 2 jam dia menunggu tapi sms dari Mey tak kunjung datang.

            “Atau jangan-jangan, Mey engga ada pulsa. Tapi engga mungkin ah, kemarennya kan gue dibeliin pulsa sama mama yang dua puluh lima ribu pula. Masa langsung habis sih? Kan engga mungkin banget, boo…”

            Sifa masih mondar-mandir sambil berfikir, dan sesekali dia melihat I-phone milik Mey yang tergeletak di tempat tidur. Tiba-tiba Sifa berhenti dan mencoba mengingat-ngingat sesuatu.

            “Ohiya gue baru inget. HP gue kan mau disita sama mama. Aduh mampus gue. Mey udah apusin pesan gue belom ya? Kalo sampai ketauan gimana nih? Bisa-bisa gue dihukum seumur hidup nih. Aduh mampus gue..mampus..” Sifa mendadak panik, dia terus menepuk-nepuk jidatnya. Lagi sibuk-sibuknya mikir tiba-tiba pintu kamar Mey ada yang mengetuk. Sifa langsung mendongakkan kepalanya. Dia mencoba menetralkan perasaannya lalu dia bercemin dan mencoba senyum semanis mungkin agar dapat menutupi kepanikkannya. Setelah siap, dia menarik nafas dan membuka pintu kamar.

            Ternyata yang mengetuk pintu Bi’Sumih. Dia mengucapkan selamat pagi dan tersenyum manis pada Sifa, dan Sifa pun membalasnya.
            “Ada apa ya, bi?” tanya Sifa lembut.
            “Sarapan sudah siap, non. Den’Arya juga sudah menunggu di ruang makan” jawab Bi’Sumih dengan sopan.
            “Ohiya, iya bi. Makasih ya. Hem, 5 menit lagi aku kebawah”
            “Sama-sama, non. Saya permisi dulu, non” Bi’Sumih melangkah pergi meninggalkan kamar Mey dan dia kembali mengerjakan pekerjaannya seperti biasa. Sifa menutup pintu kamar dan melangkah menuju lemari besar milik Mey untuk berganti pakaian. Sesuai ucapannya tadi pada Bi’Sumih, Sifa keluar kamar tepat 5 menit sesudah dia memberitahu Sifa kalau sarapan sudah siap. Pagi ini Sifa memakai tanktop hitam lalu ditutupi cardigan berwarna senada dan rok jeans diatas lutut berwarna senada pula serta sepatu kets yang berwarna hitam-putih. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda.

            “Untung aja gue nemu sepatu kets dilemari, kalo engga berarti gue harus make widges lagi. Idiih, ogah banget deh” Sifa ngomong sendiri sambil menuruni anak tangga satu per satu. Setiba di ruang makan, dia melihat Arya sudah duduk manis sambil membaca majalah, entah majalah apa yang dibacanya. Sifa segera duduk dibangku tepat didepan Arya. Arya menatap adiknya sambil mengerutkan keningnya. Menurutnya hari ini adiknya terlihat aneh. Baru kali ini dia melihat adiknya tidak memakai short dress seperti biasanya, dan rambutnya yang biasanya digerai kini dikuncir kuda. Dan biasanya setiap pagi, dia mencium pipi kanan kakaknya, hari ini tidak. Bahkan, sekarang adiknya duduk dan langsung melahap roti yang sudah disediakan diatas piring tanpa memedulikan kakaknya.
            “Yanna?”
            “Hmm?” Sifa menjawabnya dengan gumaman karena dia sedang sibuk mengunyah roti yang ada dimulutnya.
            “Eh, engga jadi deh” Sifa menatap Arya dengan heran. Tapi dia tidak terlalu ambil pusing. Toh tujuan dia disini cuma satu, yaitu belajar menjadi lebih baik. Dia kembali melahap roti, setelah roti habis dilahapnya, dia segera meminum susu putih yang sudah disediakan.
            “Hari ini kakak mau ke mall. Yanna mau ikut gak?” tanya Arya. Sifa menggeleng.
            “Ohiya, hari ini kan kamu ada jadwal les biola ya. Kakak sampe lupa” Sifa langsung membelalakkan matanya What? Les biola? Mampus, gue engga bisa sama sekali ujar Sifa panik dalam hati.
            “Hmm, yadah kak. Aku pamit dulu ya takut telat” Sifa berdiri lalu melangkah menuju kamarnya untuk mengambil tas.
            “Loh? Bukannya les dimulainya jam 10 ya?” tanya Arya.
            “Eh? Hemm.. ohiya. Maksudnya tuh, Yanna mau jalan-jalan sebentar dulu, kak. Hmm.. gitu kak” jawab Sifa gelagapan. Arya hanya mengangguk.
            “Pak, saya mau ketaman dulu ya. Kalo bisa sih cari taman yang bener-bener sepi” ujar Sifa pada sang supir.
            “Baik, non Yanna”
            Selama perjalanan Sifa memikirkan keadaan Mey disana, dia sangat khawatir. Dia takut terjadi apa-apa sama cewek itu. Ini semua gara-gara dirinya, karena keegoisannya. Coba aja waktu itu dia engga minggat, dia engga bakal ketemu sama Mey dan dia juga engga bakal tukeran tempat kaya gini. Mana sifat mereka bertolak belakang banget pula. Sifa sama sekali engga bisa main alat musik selain seruling dan pianika. Saking asiknya melamun, Sifa tidak sadar kalau sedaritadi sang supir memberitahunya kalau mereka sudah sampai.
            “Non Yanna?”
            “Eh? Oh, iya. Kenapa pak?” tanya Sifa gelapan sambil mengerjapkan matanya.
            “Kita udah sampai, non” Sifa celingukkan melihat keadaan sekitar taman. Aman.
            “Yaudah deh, pak. Makasih ya, pak. Ohiya pak, hari ini saya engga ikut les biola dulu ya pak. Tolong izinin. Saya mau nenangin pikiran disini dulu, pak. Nanti kalau saya mau pulang, saya telfon bapak deh” ujar Sifa lembut lalu langsung keluar dan meninggalkan mobil dan sang supir didalamnya yang sedang keheranan melihat perubahan anak majikannya. Sifa menghirup udara segar. Sifa duduk direrumputan lalu dia mengeluarkan biola beserta buku panduan bermainnya. Cewek itu hanya memandangi tanpa menyentuhnya sedikitpun, dia bimbang antara main..engga..main..engga… dan keputusan akhirnya dia memainkan biolanya walau sebenarnya dia tidak bisa sama sekali.

            Sifa yang lagi fokusnya latihan main biola, tidak sadar kalau sedaritadi ada seseorang tak jauh dari tempatnya berada yang sedang memandanginya. Cewek itu masih sibuk berkutat di buku panduan-biola..buku panduan-biola..buku panduan-biola.. dan begitu seterusnya.

            “Kalo engga bisa main biola, engga usah main. Ganggu gue tidur tau gak lo” ujar seseorang dari arah belakang Sifa. Sifa menoleh ke sumber suara, dia terperangah melihat sesosok cowok tampan yang sedang menghampirinya. Tapi dia tersadar dengan kata-kata cowok itu barusan, dia sedang diremehkan.

            “Mending lo bisa maininnya” sungut Sifa dengan tampak kesal. Cowok itu duduk disebelah Sifa lalu meraih biola yang ada ditangan Sifa. Dia mulai mengalunkan sebuah alunan nada-nada yang sangat indah. Sifa takjub akan keahliannya memainkan biola. Seusai cowok itu memainkan biola, dia menatap Sifa lekat-lekat tepat dimanik mata.

            “Benny” cowok itu mengulurkan tangannya dengan ekspresi tanpa senyum. Sifa masih terdiam, hati kecilnya ingin menyambut uluran tangan itu tapi otaknya berkata tidak. Dan akhirnya Sifa memaksakan tangan kanannya untuk menyambut uluran tangan cowok itu sambil tersenyum manis.
            “Sif.. eh Mey. Hem.. nama aku Meiyaras” hampir saja Sifa menyebut nama aslinya. Cowok itu hanya tersenyum simpul.
            “Kamu mau ajarin aku main biola gak?” tanya Sifa sedikit kikuk. Cowok itu kelihatan sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu dia mengangguk-angguk.
            “Tapi gue cuma bisa ngajar lo dalam waktu tiga hari” Sifa berfikir sejenak. Daripada gue gak bisa sama sekali, gak pa-pa deh biar tiga hari juga ujar Sifa dalam hati lalu dia mengangguk kecil sambil tersenyum manis. Benny mulai mengajari Sifa bermain biola. Cewek itu punya tekad yang besar untuk merubah sifatnya. Dia ingin apa yang belum pernah dia pelajari, harus dia pelajari bahkan harus dapat dia kuasai dalam waktu kurang lebih 1 bulan ini, karena sekarang adalah peluang emas buat dirinya untuk menuju pintu KEBEBASAN.
            Di sisi lain, di waktu yang sama. Mey menjalankan hukumannya. Dia cukup senang menjalani hukuman ini, menurutnya hukuman ini tidak berat sama sekali. Setiap hari dia harus melakukan rutinitas yang sama, yaitu nyiramin tanaman, jemur pakaian, nyapu, ngepel, nyuci piring, nemenin nyokapnya Sifa kepasar, bantuin nyokapnya Sifa masak, nyetrika pakaian, dll.
            “Serasa pembantu” ujar Mey pelan sambil tersenyum, saat dia sedang menjemur pakaian.
            Waktu sudah menunjukkan pukul 12, waktunya makan siang. Mey menyusuri anak tangga, setiba dilantai 1 dia mengambil piring lalu diisinya dengan nasi dan lauk pauk yang ada. Dia makan dengan lahapnya. Gimana kabar Sifa ya? Disaat makan, tiba-tiba Mey teringat akan Sifa. Seusai makan dia segera melangkahkan kaki menuju kamar Sifa dilantai 2.

            Mey padahal ingin menceritakan kejadian hari ini pada Sifa, tapi sayang HP milik Sifa sedang disita. Dan cewek itu teringat akan sesuatu.

            “Ohiya. Diary elektroniknya Sifa. Kenapa engga daritadi sih aku ingetnya” Mey segera melompat dari tempat tidur Sifa lalu langsung meraih notebook milik Sifa, dia menyalakannya dan segera dicarinya file itu. Setelah ditemukannya, dia menyempatkan diri membaca tulisan demi tulisan. Di diary itu terdapat kurang lebih 25 halaman tentang kejadian yang pernah dia alami, kebanyakan mengisahkan tentang seorang cowok. Setelah membaca itu, Mey menulis kejadian hari ini.
            3 hari telah berlalu. Kini Sifa sudah mulai sedikit bisa menguasai bermain biola berkat bimbingan Benny. Di taman ini, awal mereka bertemu dan taman ini juga yang menjadi saksi kalau Benny telah mengajarinya bermain Biola selama 3 hari, serta taman ini juga yang akan memisahkan mereka. Mereka saling tatap tepat di manik mata.

            “Makasih banget ya kamu udah mau ngajarin aku main biola selama 3 hari ini, plus kamu juga udah ngajarin aku ngendarain sepeda. Aku juga seneng bisa kenal sama kamu” ujar Sifa tulus. Cowok itu mengangguk lalu dia berujar.

            “Kita pasti bakal ketemu lagi” Sifa mengerutkan keningnya, dia sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Benny. Cowok itu mengerti maksud tatapan Sifa yang seakan-akan bertanya ‘maksud?’, tapi Benny menghiraukannya. Dia malah kembali berujar, membuat kening Sifa semakin mengkerut.

            “Ohiya, jaga diri ya. Gue yakin lo pasti bisa berubah. Percaya sama diri sendiri, itu kunci utamanya” cowok itu pergi meninggalkan Sifa yang masih berdiri mematung. Sifa terus memandangi Benny sampai cowok itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Tak lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai turun, Sifa masih bergeming ditempat. Setelah hujan semakin deras, Sifa mulai tersadar lalu dia segera berlari menuju mobil CRV hitam. Sang supir menatap anak majikkannya dengan cemas, karena dia takut kalau-kalau penyakitnya kumat.
            “Bapak kenapa ngeliat saya sampai segitunya?” tanya Sifa yang merasa risih dilihatin seperti itu sama sang supir.
            “Non engga kenapa-kenapa kan?” tanya sang supir yang bernama Bejo, dengan nada yang khawatir.
            “Emang kenapa sih, pak?” Sifa mengambaikan pertanyaan itu, dia malah balik bertanya dengan gemas. Pak Bejo menggelengkan kepalanya, lalu melajukan mobilnya. Aneh ujar Sifa dalam hati. Cewek itu menatap nanar keluar jendela.
            Setiba dirumah. Sifa disambut dengan celotehan Arya, kakaknya Mey yang super duper bawel abis.
            “My Little Princess kamu engga apa-apa, sayang?” tanya Arya pada Sifa. Arya khawatir dengan penampilan Sifa yang kini basah kuyup. Sifa mengabaikan pertanyaan Arya. Dia heran, kenapa orang-orang yang melihatnya basah kuyup begini khawatirnya engga ketulungan ya? Padahal biasanya dia kalau ketahuan hujan-hujanan udah keburu didampret sama mamanya.

            “Sayang, kakak nanya. Kamu engga apa-apa? Engga sakit? Kamu kenapa basah kuyup gini sih, Yanna? Atau Pak Bejo telat jemput kamu, iya? Jawab pertanyaan kakak dong, Yanna” Arya mendesak Sifa untuk menjawab sederet pertanyaan yang menurut Sifa engga penting buat dijawab. Sifa tetap melangkahkan kakinya menuju lantai atas, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arya. Arya masih tetap ngoceh. Sifa nyerah, setiba didepan kamar Mey, dia membuka suara.
            “Kakak kenapa sih nanyain kaya gitu mulu? Yanna capek, mau istirahat” ujar Sifa malas.
            “Maaf ya, sayang. Seharusnya kakak yang jemput kamu, biar kamu engga sampai hujan-hujanan gini. Ntar seabis mandi kamu makan malam ya, terus obatnya dimakan. Abis itu kamu istirahat. Besok-besok biar kakak yang antar jemput kamu deh. Kakak engga mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa. Soalnya kamu tanggungjawab kakak” Arya kembali nyerocos tanpa memedulikan pertanyaan Sifa. Belum sempat Sifa bicara, tuh cowok nyerocos lagi.

            “Yadah, kamu masuk dulu sana. Kakak tunggu di ruang makan. Kalau kamu ngerasa mulai sakit, bilang kakak. Dadah my little princess, muaahhh” Sifa speechless. Tadi itu yang mendarat dikeningnya apa? Arya nyium Sifa? Oh no! sifa langsung masuk ke kamar. Dia segera mandi, berganti pakaian, terus ngegalau bentar.

            “Mey lo kok beruntung banget sih. Udah cantik, kaya, pinter, punya kakak care abis lagi sama lo. Envy gue! Ohiya, tadi dia nyium gue. Idiihh… jangan sampe gue kecolongan lagi. Walaupun itu ciuman buat adek, tapi gue kan bukan adeknya. Yeakss… satu bulan itu lama juga ternyata. Satu bulan, ayoo cepetan dong” Sifa ngedumel sendiri dikamar. Sampai-sampai dia lupa kalau dirinya sudah ditunggu Arya diruang makan. Pintu kamar diketuk. Dengan malas Sifa membuka pintu. Ternyata si cowok bawel itu lagi, Arya!
            “Yanna, kakak udah nunggu daritadi juga. Ayo makan! Ntar kamu sakit lho” Arya menarik tangan Sifa. Sabar aja gue sih ujar Sifa kesal dalam hati.
            Setiba di ruang makan. Sifa penasaran dengan perilaku orang-orang dirumah saat melihat keadaan Sifa yang basah kuyup sampai segitunya.
            “Kakak?” Arya menoleh ke arah Sifa yang sekarang sedang duduk di hadapannya.
            “Ka..kakak hmm.. kenapa sih sampai sekhawatir itu sama aku?” tanya Sifa ragu-ragu. Arya mengangkat alisnya lalu tersenyum.
            “Itu karena kakak sayang kamu. Makanannya di abisin, terus kamu makan obatnya abis itu istirahat”
            Hari demi hari mereka lalui di tempat yang berbeda. Mey yang saat ini sedang merapihkan pakaian yang sudah disetrika, dipanggil nyokapnya Sifa. Mey segera menghampiri beliau. Dia duduk di hadapan beliau yang sedang duduk santai sambil mengutak-atik bajunya.
            “Ada apa ya, ma?” tanya Mey hati-hati.
            “Selama menjalani hukuman, gimana perasaan kamu?” tanya nyokapnya Sifa.
            “Senang” jawab Mey sambil tersenyum lebar. Nyokapnya Sifa langsung menatapnya dengan kening mengkerut.
            “Aku senang banget. Soalnya aku jadi makin rajin bangun pagi dan tiap hari badan aku gerak mulu, jadi secara engga langsung aku udah ngejalanin olahraga tiap hari. Emang kenapa, ma?” Mey masih dengan senyuman lebarnya bertanya pada nyokapnya Sifa.

            “Kamu sudah terbebas dari hukuman” jawab beliau singkat padat dan jelas. Senyuman Mey lama-lama melemah sampai senyuman itu benar-benar menghilang.
            “Yaahh.. kenapa ma? Kerjaan aku kurang rapih ya?” tanya Mey lemah.
            “Malahan kerjaan kamu itu rapih banget. Kalo mama engga nyetopin hukumannya. Gimana kamu mau nyari sekolah?” kini gantian Mey yang mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengingat-ingat sesuatu tentang Sifa, ohiya dia kan mau sekolah di Yogya entah alasannya apa tapi aku janji akan membantunya ujar Mey dalam hati setelah dia ingat ucapan Sifa tempo hari. Mey manggut-manggut.
            “Kamu mau sekolah dimana?”
            “Yogya!” jawab Mey dengan percaya diri.
            “Tapii..” belum selesai ngomong, Mey keburu ngomong lagi. Dia tidak mau kalau sampai mendengar penolakan dari mulut mamanya.

            “Engga ada tapi-tapian, ma. Mama kan udah liat sendiri, kalau sekarang aku tuh udah bisa ngelakuin semuanya sendiri. Atau mama mau aku ngelakuin hal yang waktu itu, pergi dari rumah?” ujar Mey panjang lebar. Hati nyokap Sifa langsung tertekan, kata-kata itu bagaikan ribuan pisau yang terbang ke arahnya dan tepat menusuk pusat hatinya. Beliau merasa ada yang ganjil pada anak perempuan satu-satunya ini, dari awal melihatnya pulang dari rumah. Sorot mata Mey yang sangat berbeda jauh dengan Sifa, meyakinkan beliau kalau anak cewek di depannya bukan anaknya. Tapi dia menepis pikirannya jauh-jauh, kalau benar dia bukan anaknya terus kemana anak kandungnya? Mey masih menatap beliau dengan tatapan ciri khasnya, yaitu tatapan lembut tapi tegas. Beliau mempertimbangkan.

            “Mama engga harus jawab sekarang. Masih ada waktu buat ngejawab itu. Tapi, engga dijawab juga engga pa-pa sih” Mey beranjak pergi dari hadapan nyokapnya Sifa. Baru beberapa langkah Mey melangkahkan kaki, beliau berkata dengan suara parau.

            “Kamu boleh sekolah di Yogya” mendengar penuturan itu Mey terlonjak senang, kalimat ini yang ditunggu-tunggu Sifa. Pengorbanannya selama kurang lebih 2 minggu engga sia-sia. Dia segera berlari ke nyokapnya Sifa yang masih duduk dilantai, dia segera memeluknya.
            “Makasih ya ma. Makasiiiihhh banget” ujar Mey kegirangan. Tapi dia merasa ada yang aneh. Saat dilihatnya pipi beliau dibasahi air mata. Mey tertegun melihatnya.
            “Walaupun aku sekolah di Yogya. Aku engga akan lupa sama mama. Bener deh” Mey mencoba menghiburnya.
            “Mama cuma engga mau anak perempuan mama satu-satunya ninggalin mama” ujarnya lirih.
            “Engga akan” Mey menggelengkan kepala sambil tersenyum, mencoba untuk membuat beliau percaya kepadanya lalu dia mengusap air matanya. Beliau memberikan kembali HP nya Sifa. Pas dilihatnya, HP nya engga nyala-nyala juga eh taunya tuh batre HP abis, syukurlah.. jadi dia tidak membaca sms dari Sifa.
            Sifa yang masih tertidur pulas di tempat tidur yang ditemani dengan boneka-boneka di sekelilingnya, tak menyadari kehadiran Arya. Baru saja Arya akan membanguni Sifa, tiba-tiba I-phone milik Mey berbunyi. Arya membaca pesan itu. Betapa kagetnya dia saat membaca pesan itu, dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dibacanya lagi pesan itu dengan cermat tapi tetap saja tak ada satu kata pun yang berubah, dia terduduk lemas di lantai tepat di sebelah tempat tidur Mey. Sifa terbangun. Dia menyipitkan matanya lalu mengucek-ngucek kedua matanya untuk meyakinkan kalau penglihatannya tidak salah. Arya terduduk dengan kedua tangan memegang kepala dan kaki sebagai tumpuan tangannya.

            “Ka..kakak ke..na..pa?” tanya Sifa dengan sangat hati-hati. Dia perlahan turun dari tempat tidur lalu mengikuti Arya duduk di lantai. Cowok itu menatap Sifa dengan sangat tajam. Sifa yang takut ditatap seperti itu bergidik ngeri, dia sedikit menjauhkan diri dari cowok itu. Arya menyerahkan I-phone milik Mey. Sifa meraihnya dengan takut-takut, lalu dia membaca pesan yang sudah terbuka.
From : Mey
Sifaaa… hari ini aku pergi ke Yogya buat ngikutin tes masuk SMA. Mohon doa nya. Dijamin kamu pasti suka sama sekolahnya =).
            Sifa terdiam, tidak tau harus memberi penjelasan apa. Tiba-tiba saja Arya bertanya dengan nada yang tidak seperti biasanya.
            “Dimana adik gue? Dan elo siapa?” Sifa masih bergeming. Dia tidak menyangka kalau semuanya akan begitu cepat terbongkar. Sifa menggelengkan kepalanya, dia takut. Arya kembali bertanya dengan nada yang semakin menjadi.
            “Dimana little princess gue? Elo siapa? Dimana elo kenal dia? Jangan bilang kalo elo cuma manfaatin otak dia!!” Sifa membenamkan kepalanya di kedua lututnya, dia menangis. Dia takut dengan Arya, boro-boro melihat wajahnya, mendengar suaranya saja sudah ketakutan. Sifa tetap diam, menangis dalam diam. Mulutnya terasa terkunci, tidak dapat bicara. Dia kembali menggelengkan kepalanya. Sifa semakin terpojok, dia meringkuk. Arya melihat Sifa yang meringkuk ketakutan.

            Arya menghampiri Sifa, lalu dia meraih badan cewek itu dan membenamkannya dipelukan hangatnya. Dia merasakan badan cewek itu bergetar, dia benar-benar ketakutan. Cowok itu merasa bersalah dengan tindakkannya yang berlebihan. Sifa masih menangis dan terus menangis. Dia sudah tau dari awal kalau tindakkannya itu salah dan dia juga tau kalau ini semua pasti akan terbongkar tapi dia belum siap kalau harus terbongkar sekarang, tapi sudah terlambat Arya sudah mengetahui yang sebenarnya.

            “Maaf” kata-kata itu yang akhirnya keluar dari mulut Sifa setelah beberapa detik terdiam. Mendengar satu kata itu, entah kenapa hati Arya terasa sakit sekali. Suara Sifa yang terdengar sangat parau, cewek itu benar-benar murni menangis tanpa ada yang dibuat-buat. Arya semakin mengeratkan pelukannya, entah kenapa dia ingin lebih lama berada disamping Sifa.
            “Maaf” satu kata itu yang terus terucap dari mulut Sifa. Seperti sudah di setting sedemikian rupa, agar mulut Sifa hanya mengeluarkan satu kata yaitu ‘maaf’.
            “Udah cukup ngomong maafnya” ujar Arya yang kini sudah mulai melunak serta dengan sedikit senyum manis. Sifa masih menangis, dia sangat merasa bersalah.
            “Tapii..”
            “Ssstt.. lo cukup ngejelasin semuanya. Oke? Udah jangan nangis lagi ya?” Arya mengendurkan pelukannya. Dia tertegun melihat pipi Sifa yang benar-benar basah dengan air mata, cowok itu mengusap kedua pipinya sambil mencoba tersenyum. Sifa mengangguk pelan.

            “Sekarang lo mandi, bersihin muka lo. Gue tunggu di ruang makan” Arya meninggalkan Sifa sendiri. Setelah dia benar-benar ngerasa sendiri di kamar, dia segera melangkah menuju kamar mandi.

            Arya duduk sambil menatap piring kosong di depannya tapi fokus pikirannya tak tertuju kesana, entah pergi kemana pikirannya saat ini. Mey! Ya Mey, adik satu-satunya yang dia punya. Adik yang sangat dicintainya bahkan melebihi cintanya pada nyawanya sendiri. Sekarang fokus pikirannya tertuju pada Mey.

            Sifa menatap nanar bayangannya dicermin. Gue harus jelasin semuanya tekad Sifa dalam hati. Dia menghembuskan nafasnya, mencoba tersenyum lalu melangkahkan kaki menuju ruang makan.
            Sekarang Sifa dan Arya sedang duduk berdua di gazebo yang terletak di halaman belakang rumah keluarga Aryoga. Mereka masih dibalut keheningan, sibuk dengan fikiran masing-masing. Sampai akhirnya Sifa membuka suara.
            “Maaf. Gue bener-bener engga maksud untuk..” belum selesai bicara, kalimat itu sudah dipotong Arya.

            “Gue tau lo engga salah. Gue nya aja yang terlalu khawatir berlebih sama Mey, sampai-sampai dia tega ninggalin gue” ujar Arya lirih. Sifa merasa semakin bersalah mendengar perkataan itu, seharusnya tempo hari dia tidak menerima permintaan Mey, pasti sekarang semuanya engga akan kaya gini.

            “Gue tukeran tempat sama Mey, saat gue ketemu dia di MOI. Tadinya gue engga mau, tapi dia maksa. Gue juga engga maksud buat manfaatin otaknya. Bener-bener engga maksud. Sebenernya gue dan dia punya tujuan yang sama” ujar Sifa lirih sambil menundukkan kepala. Mendengar penuturan dari Sifa, Arya langsung mendongakkan kepalanya dan meminta Sifa untuk menceritakan lebih detail. Sifa mulai menceritakan semua tujuannya dan Mey, sampai mereka mengambil keputusan untuk betukar tempat.

            “Dia pasti tertekan karena sifat gue yang kelewat bates. Gue kaya gini karena gue takut kehilangan dia. Karena dulu gue nyaris kehilangan dia” ujar Arya lirih sambil menatap nanar rerumputan hijau yang terbentang di depannya. Sifa mendengar dengan seksama.

            “Waktu itu, keluarga gue ngalamin kecelakaan sepulang berlibur. Mobil kami ditabrak dua bis dari arah yang berbeda. Dia yang duduk dibangku penumpang sebelah kanan, tergencet dengan bagian depan bis. Dan juga terkena serpihan kaca mobil. Little princess gue koma kurang lebih satu bulan. Untung aja dia dateng dan bisa nyelamatin adik gue” Sifa menyipitkan matanya, dia sudah membuka mulut bermaksud untuk bertanya tapi Arya sudah lebih dulu melanjutkan ceritanya.

            “Yanna ngalamin pendarahan yang luar biasa dan cowok itu donorin darahnya buat Yanna, karena pada saat itu gue sama bonyok gue masih tak sadarkan diri. Sebenarnya Yanna juga mengidap penyakit jantung dari kecil, dia juga bermasalah sama lambung. Dan juga penyakit fertigo” Sifa tercengang dengan ucapan Arya barusan. Dia sama sekali engga tau kalau Mey mengidap penyakit sebanyak itu. Saat bertukar tempat dia juga tidak bawa apa-apa selain barang-barang milik Mey. Sifa semakin merasa bersalah dengan tindakkannya. Dia menunduk lemas, tiba-tiba dia menitikkan airmata, semakin lama semakin deras. Sifa menangis sesenggukkan dan bahunya berguncang. Arya menoleh ke Sifa, dia tertegun melihat cewek di sebelahnya menangis lagi. Di tariknya tubuh cewek itu ke dalam pelukkanya. Tangis Sifa semakin deras, dia merasa sangat bersalah. Sifa asik sendiri dengan kehidupan mewah Mey, dan dia tidak memikirkan kondisi Mey di sana. Arya ikut merasa bersalah, seharusnya dia tidak bertindak berlebihan seperti ini. Arya masih memeluk tubuh Sifa dengan erat, lalu mengelus-elus rambut Sifa dengan lembut.

            “Maaf” kata-kata itu kembali keluar dari mulut Sifa. Arya semakin merasa bersalah. Entah kenapa mulutnya sangat sulit untuk mengeluarkan suara, tenggorokkannya kering, sekilas dibahasi bibirnya yang kering. Perlahan tapi pasti, dia mengendurkan pelukkannya lalu menatap lembut Sifa tepat di manik mata.
            “Besok kita ke Yogya” Sifa tersentak mendengar ucapan Arya. Dan akhirnya mengangguk pasrah.
            Pukul 6 pagi Sifa dan Arya berangkat ke Yogya.
For : Mey
Mey, hari ini gue sama kakak lo nyusul ke Yogya. Dia udah tau semua nya. Ntar gue bakal kasih kabar lagi ke lo.
            Di mobil suasana hening. Arya fokus mengemudi dan Sifa tak tahu harus bicara apa. Dia hanya merenungi hal konyol nya ini. Saking kesalnya dengan semua larangan mama nya, orang lain pun sampai terbawa ke masalahnya. Sebelumnya tak pernah terbayang akan terjadi kejadian seperti ini dalam hidup nya. Pukul 12 siang, mereka berhenti di rest area untuk beristirahat.
            “Kak, maafin gue ya?” tanya Sifa memelas. Arya tersenyum dan mengangguk. Beberapa menit kemudian pesanan datang. Sate Klathak dan Nasi Pecel. Seusai makan, mereka membeli beberapa cemilan untuk di mobil.
            “Yangko” ujar Arya ngotot.
“Bakpia aja” Sifa tidak kalah ngotot.
            “Yangko”, “Bakpia”, “Yangko”, “BAKPIAAAA”, “YANGKOOO”
            “Ampyang” pemilik toko yang sedaritadi memperhatikan mereka ikutan kesal. Sifa dan Arya menoleh sambil tercengang. Yang dilihatin hanya nyengir.
            “Abis si ade beli cemilan aja pake berantem segala”
            “Yaudah yangko aja, pak” ujar Sifa pasrah.
            “Bakpia coklatnya aja, pak”
            “Yang bener yang mana nih, dek?” Tanya pemilik toko bingung.
            “Kedua nya deh, pak” jawab mereka serempak.
            “Ciee.. si ade kompak bener” Sifa segera pergi menjauh dari toko itu karena emosinya sudah meninggi. Arya menerima pesanannya dan membayarnya.
For : Mey
Malem ini kami nginep di hotel. Rencananya besok mau pergi ke Borobudur. Kita ketemuan di sana, ya.
            Malam ini mereka bermalam di salah satu hotel di Yogya. Sifa yang sedang mengeringkan rambutnya, dikagetkan dengan suara ketukan pintu. Dia segera membuka pintunya, ternyata Arya.
            “Kenapa?” tanya Sifa.
            “Gue tunggu di taman, ada yang mau di omongin” Sifa hanya mengangguk tanda mengerti.
            Setiba di taman, Sifa duduk di samping Arya lalu ikut menatap bintang yang bertaburan di langit sana.
            “Makasih, ya. Atas semua kebaikan lo” Sifa membuka suara. Arya menatapnya.
            “Engga perlu”
            “Oke, engga masalah. Eh, tadi tuh muka lo lucu banget tau gak. Terus yang tadi lo naik kuda, sumpah keren banget, ohiya abis itu kita naik kuda berdua kan ya? Serasa tuan putri naik kuda sama pangeran, so sweet” ujar Sifa panjang lebar sambil menutup matanya dan tersenyum. Arya hanya melongo melihat perubahan Sifa.
            “Muka lo kok merah? Hayoo.. jangan-jangan lo suka lagi sama gue? Ngakuu..ngaku..” senyum Sifa semakin lebar saat menggoda Arya.
            “Apaan sih” jawab Arya sok jaim.
            “Berkilah saja terus. Awas loh kalo nyesel karena gak ngaku. Udah ah, gue mau tidur. Bye” Sifa bangkit dari duduknya lalu melangkah ke kamar.
            Selama berjalan dia senyum-senyum sendiri sambil bersenandung dan sesekali berputar kemudian melompat, benar-benar sedang bahagia. Tiba – tiba langkahnya terhenti.
            “Sifa?” Tanya seorang cowok, terlihat jelas kerinduan luar biasa dari mata nya.
            “Kamu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar