Part 2
Hari ini Sifa bangun lebih awal,
berhubung hari ini hari Sabtu. Dia ingin main basket dilapangan tak jauh dari
rumahnya. Dia keluar dari kamarnya dan menulusuri anak tangga satu persatu
sambil sesekali bersiul. Rio yang sedang asyik menggontak-gantik channel TV
diruang keluarga rumah Sifa tidak sadar kalau anak sang pemilik rumah sudah
duduk dibangku tak jauh dari tempat dia berada. Sifa berkata pada Rio sembari
mengikat tali sepatunya.
“Itu TV bukan punya nenek moyang lo.
Kalo engga niat nonton mending dimatiin aja, bisa kan?” Sifa berdiri dari
tempatnya duduk lalu merapikan pakaian dan rambutnya. Rio menoleh ke arah
sumber suara yang sudah tidak asing lagi dikupingnya. Rio heran saat dilihatnya
Sifa sudah berpakaian kaos putih bertuliskan ‘Lombok’ dibagian depannya, celana
basket warna biru muda, rambutnya dikuncir kuda, poni yang dijepit, serta
handuk kecil berwarna biru bertengger dilehernya.
“Hehe… maap maap. Abisnya bosen. Mau
kemana lo? Joging? Oh, mau main basket ya? Gue ikut dong” ujar Rio seraya
berdiri lalu mematikan TV dan menaruh remotenya dilemari hias tempat TV itu
berada. Sifa mendengus kesal. Tapi mau tidak mau ya pokoknya harus mau, Sifa
mengangguk lemah.
“Sikat gigi dulu sono, biar engga
bau jigong. Gue tunggu diruang tamu ya. Waktu lo cuma 10 menit. Dihitung dari
sekarang” Rio segera berlari menuju lantai atas. Dia segera bergegas menuju
kamar mandi dilantai atas. 10 menit kemudian Rio turun dengan pakaian yang tak
diganti yaitu kaos putih polos dan celana basket berwarna merah. Sekarang dia
memakai sepatu basket berwarna putih-biru, handband ditangan kanan, serta
stopwatch yang tergantung manis dilehernya. Heh,
ni cowo mau main basket apa TP-TP sih? Ujar Sifa dalam hati. Sifa bangkit
dari duduknya lalu segera melangkahkan kaki keluar rumah. Rio mengikutinya dari
belakang.
“Lapangan basketnya dimana?” tanya
Rio pada Sifa.
“Engga jauh kok, deket. Bukan
lapangan basket sih sebenernya, jadi tuh lapangan engga jelas, lapangan apa tau
tapi ada satu ring basket yang yah..masih bisa dipake lah” jawab Sifa panjang
lebar tanpa menoleh ke arah Rio. Setiba dilapangan yang dituju. Sifa dan Rio
melakukan pemanasan lalu berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Setelah
itu, mereka mulai bermain basket. Terlebih dahulu Sifa mendrible bola
mondar-mandir dan mulai memasukkannya kedalam ring dan itu dilakukannya
berulang-ulang. Tak lama kemudian, Rio merebut bola dari tangan Sifa. Dia
mendrible bola dari jarak yang cukup jauh dari ring lalu berlari menuju ring
dengan langkah yang panjang dan cepat, 1..2..3..happ.. Rio melompat dan
memasukkan bolanya kedalam ring, bola itu masuk dengan mulus. Sifa mengambil
bola yang tergelinding ditanah itu.
“Lay up doang mah gue juga bisa
kali. Lihat gue nih” Sifa mengikuti gerakkan Rio tadi, dia mulai menghitung
langkah kakinya sebelum melompat 1..2..3..happ Sifa melompat dan bola masuk ke
ring dengan sangat baik. Rio bertepuk tangan. Sifa hanya tersenyum simpul. Rio
mengambil bola yang tergelinding itu. Lalu dia mendribel bola itu secara
bergantian dengan menggunakan 2 tangan, kiri..kanan..kiri..kanan..dan
seterusnya. Sifa menghela nafas.
“Lay up mah biasa. Three point bisa
engga?” tanya Rio pada Sifa.
“Waktu gue masih SD sih bisa” jawab
Sifa.
“Jiah..dasar lo. Kalo lo bisa, gue
bakal traktir lo sarapan, gimana? Tapi kalo lo kalah pasti ada hukumannya” Rio
memberi tantangan pada Sifa dengan tangan yang masih mendribel bola.
“Hukumannya apa?” tanya Sifa.
“Rahasialah..” jawab Rio. Lalu dia
tersenyum mengejek pada Sifa. Sifa memperhatikan gerakan Rio, tangannya yang
sangat cepat mendrible bola, membuatnya menjadi terkagum-kagum. Rio tersenyum
kembali pada Sifa saat bola yang dilemparnya masuk dengan sangat cantik ke
dalam ring. Sifa berjalan ke tempat berdiri Rio tadi lalu dia menangkap bola
yang dilempar Rio tadi.
“Lo cuma punya dua
kesempatan” ujar Rio. Sifa mengambil ancang-ancang lalu memandang lekat-lekat
ring yang ada didepannya. Dia mulai melompat dengan kedua tangan yang memegang
bola basket terulur ke depan. Lalu dia mendorong bola itu hanya dengan gerakan
pergelangan tangannya. Dan yapp…bolanya masuk. Sifa langsung loncat-loncat
kegirangan sambil teriak-teriakan.
“Asiikk… ditraktir..traktir..
yeyeyeye…. Soto soto soto. Aku mau makan soto. Haha…” Rio yang melihat tingkah
Sifa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sifa mengambil bola yang menggelinding
kepinggir lapangan.
“Battle by one yok sama gue” ajak
Sifa pada Rio. “Yang kalah harus nyium yang menang ditengah lapangan sekolah si
pemenang ya?” Rio melontarkan satu hukuman yang berhasil membuat Sifa bergidik
ngeri. “Engga ada yang lain apa hukumannya? Masa tanding diluar sekolah,
hukumannya malah didalem sekolah” protes Sifa. “Engga mau? Cupu” ujar Rio yang
sekarang sudah berada tepat didepan Sifa. Sifa menarik napas panjang lalu
menghembuskannya. “Deal” Sifa mengulurkan tangannya, lalu mereka berjabat
tangan.
Pertandingan dimulai.
Saat ini bola ada ditangan Sifa, dengan tangan kanan yang mendribel bola dan
berlari cepat menuju ring. Tiba-tiba Rio berada disebelah kirinya, dengan
tangan kiri yang bebas Sifa mencoba untuk menghadang lawannya. Berhasil, Sifa
terbebas dari Rio, dia segera berlari menuju ring dan happ…bola masuk.
“Dua kosong” ujar
Sifa lalu tersenyum mengejek pada Rio. Sekarang bola ada ditangan Rio, sulit
untung merebut bola ditangan cowo itu karena badannya yang tinggi, serta secara
fisik cowok lebih kuat dari cewek. So pasti Sifa sangat sulit merebut bolanya.
Pertandingan by one itu terus berlangsung, sampai waktu menunjukkan pukul 07.00
wib.
“Dua puluh –
Sembilan. Elo engga mungkin menang Sifa sayang” ujar Rio pada Sifa. Wajah Rio
berada tepat didepan wajah Sifa, mereka berdua sama-sama mandi keringat. Wajah
Rio yang putih, model rambut yang spike, serta keringat yang mengalir diwajah
dan membasahi rambutnya membuat dia semakin terlihat cool. Sifa, wajah yang
sawo mateng tapi manis, keringat yang mengalir diwajahnya, dari dahi mengalir
kepipi kemudian dagu dan lalu jatuh ketanah, aura beauty naturalnya sangat
terpancar.
“Jangan seneng dulu
lo” ujar Sifa.
“Elo cantik juga ya
kalo lagi keringetan gini. Kalahin gue ya cantik” ujar Rio pada Sifa lalu dia
mengambil bola basket yang berada tak jauh dari mereka. Pertandingan by one
dimulai lagi. Bola berada ditangan Sifa, sekarang dia harus ngelakuin three point, titik.. tekat Sifa. Setelah
bola three point yang dilempar Sifa
itu masuk, bola kembali berada ditangan Rio. Kalo lemparannya sampai masuk,
bisa-bisa Sifa terkena ancaman kalah, aah..tidak..jangan sampe..kalo Sifa
kalah, dia harus nyium Rio ditengah lapangan sekolahnya dong? Hieakkss.. ogah
banget deh.
Saat bola yang dilempar
Rio masuk, orang-orang yang menonton pertandingan mereka sejak tadi bertepuk
tangan, kecuali Sifa. Dia spcheless. Aaiih..
gue kalah. Semoga aja hukumannya cuma bercanda, amin amin amin… Sifa berdoa
dalam hati. Rio menghampiri Sifa dengan bola berada ditangan kirinya, “Gue
menang, sayang. Haha.. Senin besok lo harus nyium gue” bisik Rio tepat dikuping
Sifa.
“Kita pamit dulu ya,
bro. Makasih yo udah nonton battle by one kita, hehe…” ujar Rio pada
orang-orang disana -- yang terdiri dari segerombolan cowok-cowok cakep --.
“Siip deh..” ujar salah satu cowok diantara gerombolan itu. Rio merangkul Sifa
dengan tangan kanannya.
“Yo, hukumannya
diganti aja, ya? Ya? Ya?” ujar Sifa dengan wajah yang sangat melas. Rio
menggelengkan kepalanya. “Yah Rio, gue kan masih kecil belum boleh nyium-nyium
orang sembarangan tauuu…” ujar Sifa semakin memelas. “Gue kan bukan orang
sembarangan tauu. Jadi makan sotonya?” tanya Rio mencoba mengalihkan
pembicaraan. “Jadi..jadi.. diruko ya” Sifa mendadak semangat mendengar kata
soto. “Giliran makan aja langsung semangat, dasar” Rio mengacak-acak rambut
Sifa. Sifa memukuli Rio tanpa ampun.
Selama perjalanan,
mereka bercanda membuat orang yang ada disekeliling menoleh ke arah mereka.
Sifa mencoba memutar bola basket diatas 1 jari yaitu jari telunjuk kirinya.
Bukannya muter, bolanya malah gelinding kebawah. Atau sesekali mereka
menceritakan lelucon. Setiba ditempat soto, mereka tak henti-hentinya bercanda.
Sampai-sampai tukang soto tersenyum geli melihat mereka bercanda atau
menceritakan hal gila yang pernah mereka alami.
♀ ♥ ♂
Sifa duduk dilantai
sambil meluruskan kakinya yang pegal sehabis bermain basket dengan Rio. Dia
mengambil remote dan mencari channel RCTI untuk menonton film kartun
kesukaannya yaitu Doroemon. Rio duduk disebelahnya Sifa, dengan kaki yang
diluruskan juga. Sifa yang sedang asik menonton TV, tak sadar kalo sedari tadi
dia dipanggil sama Kak’Tom. Dan akhirnya Rio yang menengok.
“Abis main basket
ya?” tanya Kak’Tom pada Rio.
“Iya, kak” Kak’Tom
hanya mengangguk, lalu dia pergi keluar rumah untuk berkumpul dengan
teman-temannya. Film Doraemon yang ditonton Sifa dari tadi akhirnya habis juga,
Sifa langsung bergegas kekamar mandi. Selang beberapa menit, dia sudah terlihat
lebih segar.
“Jalan yuk, bete nih”
ujar Rio pada Sifa. Sifa menoleh ke arah Rio dengan wajah yang dipasang semalas
mungkin. “Ayolah Sifa cantik. Jalan sama gue yuk” rengek Rio. Sifa tetap tidak
menjawab. Rio memilih jalan lain yaitu menggelidik Sifa. “Haa… riooo… udah
cukup. Jangan keletikin gue. Aduh.. hahahahaha…. Iya iya. Jalan. Ayoo, udah
dong. Geli tau. Hahahaha” Sifa berteriak disela tawanya dan sambil mencoba
menghindar dari kelitikannya Rio. “Nah, gitu dong daritadi. Guekan engga usah
pake acara kelitikin lo kalo gitu” ujar Rio. Sifa menghela nafas.
“Mau kemana?” tanya
Sifa pada Rio setelah dia duduk diboncengan motor ninja warna hitam milik Rio
-- Berhubung motor Kak’Tom masih ada dikostannya yaitu diBandung dan teras
rumahnya masih luas dan cukup untuk memarkir motor, jadi Rio membawa motornya
kerumah Sifa --. Dan Mereka sudah berpamitan pada Kak’Tom.
“Engga tau. Jalan
ajalah pokoknya” jawab Rio santai.
“Yee…dasar”
“Kamu jangan bawel ya
dibelakang. Kita bakal jalan seharian penuh. Sini tangannya” Rio menarik kedua
tangan Sifa, mempertemukan tangan kanan Sifa dan tangan kirinya, lalu saling
menyatukkannya.
“Eeeh.. apa-apaan
nih? Gue engga mau” Sifa mencoba menarik tangannya tapi sia-sia. Rio menutup
kaca helmnya lalu memacu motornya pergi. Sifa hanya bisa pasrah. Rio bawa
motornya ngebut. Setelah beberapa lama kemudian, mereka tiba disuatu tempat.
Ternyata tempat pertama yang mereka kunjungi yaitu Monas. Rio membantu Sifa
turun dari motor ninjanya. Lalu dia segera turun dari motornya.
“Kalo punya motor tuh
jangan gede-gede, susah tau naiknya” omel Sifa pada Rio.
“Kan cocok buat orang
pacaran tauu…”
“Tapi kan gue sama lo
ENGGA pacaran tauuu”
“Iya juga engga
apa-apa tauu” Sifa memalingkan wajahnya, lalu berjalan lebih dulu.
“Yaah, Sifa cantik
jangan ngambek dong. Nanti aku beliin balon ya? Eh, sama es krim deh.
Cokelat..cokelat.. kita ke pantai deh. Shopping shopping. Krimbat?” ujar Rio
panjang lebar sambil berjalan mundur.
“Minta maaf bisa kali
ya” sindir Sifa.
“Ohiyadeh. Sifa
cantik, aku minta maaf ya” ujar Rio sambil tersenyum manis pada Sifa. Ini yang disuka
Sifa dari cowo yang ada didepannya, lesung pipi yang muncul saat dia senyum,
manis banget. Sifa tersenyum, lalu jari kelingking mereka saling bertautan.
“TRAKTIIIRRR….”
teriak Sifa senang. Rio melongo. Rio teringat dengan kata-katanya tadi. Terbesit
ide nakal untuk mengisengi Sifa.
“Ditraktir siapa?”
tanya Rio polos.
“Tau ah. Bete banget”
Rio langsung merangkul Sifa.
“Bercanda Sifa
sayang” ujar Rio sambil terkekeh geli. Sifa hanya manyun. “Lo kalo manyun makin
cantik aja ya” ujarnya disela tawanya. Lalu mereka berkeliling monas,
berfoto-foto, loncat-loncat, kejar-kejaran, ngobrol sama bule, duduk lesehan
dirumput, ikutan nimbrung sama anak-anak muda yang sedang ngumpul – yang
rata-rata anak cowo --, naik delman, dll. Setelah itu, mereka pergi mencari
restaurant dan akhirnya mereka memilih restaurant didaerah Rawamangun. Selesai
makan, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya didaerah Jakarta.
Dan tempat selanjutnya ialah TMII.
“Ayoo kita kesana”
ujar Sifa semangat sambil menarik-narik lengan baju Rio. “Iya iya. Sabar dong”.
“Abang, gulalinya
satu ya” ujar Sifa dengan senyuman yang amat manis. Setelah gulali telah berada
ditangannya, Sifa berkata pada penjual gulalinya sambil melirik Rio yang ada
disampingnya “Bang, yang bayar dia ya”. Lalu Sifa berbalik badan dan melangkah
pergi sambil mencicipi gulalinya. Rio hanya geleng-geleng kepala melihat sifat
teman belum lamanya yang terkadang masih terlihat seperti anak kecil. Rio
mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dompetnya.
“Yah, engga ada
kembalian mas” ujar sang penjual.
“Kembalinya ambil aja
bang. Sebagai ucapan terima kasih dari saya”
“Terima kasih untuk
apa toh mas?” tanya sang penjual gulali yang sedang terlihat bingung.
“Karena abang udah
bikin ceria cewe yang saya sayang itu” Rio langsung berbalik badan dan menyusul
Sifa yang sudah berada cukup jauh. Rio tiba disebelah Sifa lalu mensejajarkan
langkahnya dengan langkah cewe itu.
“Kok lama?” tanya
Sifa polos yang masih sibuk mencicipi gulalinya.
“Huh, lo tuh ya udah
dibeliin bukannya nungguin malah ninggalin. Bagi dong gulalinya”
“Nih.. Buka mulutnya,
aaaa…” Sifa menyodorkan gulalinya kemulut Rio. Rio melahap gulali itu.
“Enakkan?” tanya Sifa
dengan senyumnya yang amat manis. Membuat hati Rio berdebar-debar. Rio
mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Lo tau engga kenapa
gulali ini bisa manis dan bikin orang jadi ketagihan buat makan lagi?” tanya
Rio pada Sifa. Sifa menggeleng.
“Karena, pas lagi
bikin gulali abangnya ngeliatin kamu yang berwajah manis eh gulalinya jadi ikutan
manis deh, hehe…” jawab Rio, lalu nyengir.
“Berarti aku
disukainnya sama abang-abang dong? Yang cakepan dikit engga ada apa?” tanya
Sifa polos.
“Ada. Cowo yang ada
disamping kirimu ini” jawab Rio sambil tersenyum dan mengangkat-angkat alisnya
ke atas. Sifa tertawa geli melihat tampang Rio.
“Eh, kok kita
ngomongnya jadi campur-campur gini ya? Gue-elo. Aku-kamu, lama-lama apa ya?
Ane-ente kali ya? Hehehe” Sifa berkata lalu nyengir kuda, jari telunjuk dan
jari tengah membentuk huruf ‘V’. Mereka tertawa lepas. Setelah puas, mereka
pergi ke ancol.
Sifa berlari dengan
merentangkan kedua tangannya sambil berteriak sekencang-kencangnya. Rio yang
berada dibelakangnya, hanya berjalan dengan santai. Sifa menghirup nafas
dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan senyum yang tercetak dibibirnya.
“Seneng engga hari
ini?” tanya Rio yang sedari tadi menatap cewe manis itu.
“Banget. Makasih ya”
jawab Sifa girang lalu tersenyum dengan tulus.
“Cantik..cantik..”
Rio mengacak-acak rambut Sifa. Sifa melototin Rio, cowo itu langsung berlari
karena dia tau pukulan heboh pasti akan manghantam badannya tanpa ampun.
“RRIIIOOOOO…………..”
teriak Sifa kencang sambil terus mengejar Rio. Untung saja hari ini Sifa
memakai celana pendek jadi dia gampang lari-larian. Rio terus berlari tetapi
sekarang dia berlari mundur, dia ingin melihat gimana tampang cewe itu.
Akhirnya Rio tertangkap sama Sifa. Sifa mukulin Rio tanpa ampun.
“Sifaa.. udah..udah..
sakit Sifa. Gue minta maaf deh. Ampun nyaaakkk” teriak Rio yang sedang
dipukulin tanpa ampun sama Sifa.
“Gue bukan enyak lo
tauuu” teriak Sifa semakin kesal. Matahari mulai terbenam. Mereka makin asik
bermain disana yang tadinya kejar-kejaran malah main cimprat-cimpratan air
pantai sambil tertawa lepas. Mereka saling berpelukan menatap matahari yang
terbenam.
Terima kasih ya Allah, hari ini adalah hari yang paling
indah dalam hidupku ujar
Sifa dalam hati.
Ya Allah, semoga saja aku bisa selalu ada disamping Sifa.
Membuatnya selalu ceria. Aku sayang Sifa ujar Rio dalam hati.
♀ ♥ ♂
“Hayoo… lagi smsan
sama siapa? Serius banget tadi bacanya” ledek Sifa saat dia sudah duduk didepan
Rio, mereka sedang berada diayunan dihalaman depan rumah Rio.
“Eh, kapan dateng lo
fa?” tanya Rio.
“Makanya jangan smsan
mulu. Gue dateng aja sampe engga tau gitu” jawab Sifa. Lalu dia
celingak-celinguk melihat keadaan sekeliling rumah Rio, “Nyokap lo mana, yo?
Biasanya kalo jam segini lagi nyiramin bunga”.
“Cieelah, nyariin
nyokap gue rupanya lo. Nyokap lagi pergi sama bi’Imah, tau deh kemana. Terus
gue yang disuruh nyiramin bunga” Sifa hanya manggut-manggut.
“Ohiya. Eh gue dateng
kesini cuma mau minjem buku yang waktu itu lo bilang ke gue”
“Oh yang itu, ada
dikamar. Tunggu bentar ya” Rio beranjak dari ayunan itu dan dia lupa membawa Handphonenya. Sifa yang melihat itu
tanpa pikir panjang langsung mengambil HP
temannya karena penasaran sedang smsan dengan siapa si Rio. Untung saja Sifa
sering menghitung waktu yang ditempuh dari tempat ayunan berada sampai kekamar
Rio jadi dia tidak perlu khawatir jikalau Rio tiba-tiba ada disampingnya. Sifa
membuka inboxnya. Sifa tidak membacanya dari awal, dia hanya membacanya dari
tengah-tengah saja.
From : Ria.
Ohya? Masa sih? Dulu aku sempet naksir juga loh sama kamu
:).
From : Ria.
Hahaha… kamu bisa aja deh. Aku kangen sama kamu, kapan
nih kita bisa ketawa bareng lagi kaya dulu?
From : Ria.
Ih kamu mah, aku serius tauuu…. Aku ngambek sama kamu :p
From : Ria.
Masa dibeliin permen doang. Beliin aku gulali yang gede
bangeettt…
From : Ria.
Tuhkan, kamu pelitkan. Engga jadi ketemuan deh.
From : Ria.
Ih.. cium cium, wueee *muntah*. Eh tapi cium balik juga
deh :*, hehe… love you ♥.
Lalu Sifa membaca sent itemsnya.
For : Ria.
Dulu aku pernah naksir sama kamu loh :)
For : Ria.
Ternyata ga bertepuk sebelah tangan. Tau gitu, dulu aku
nembak kamu aja deh.
For : Ria.
Ciee… kangen sama aku. Aku kangen sama suara kamu yg bisa
bikin gendang telinga pecah.
For : Ria.
Yah, jangan ngambek dong. Aku beliin permen yg banyak deh
:)
For : Ria.
Bisa tekor aku kalo ketemu sama kamu lgi. Belum ketemu
aja udah minta gulali, yg gede lgi.
For : Ria.
Bukan pelit tapi hemat. Yah, masa ga jadi. Jadi dong :*.
For : Ria.
Yee dasar. Jiah, aku dikasih lope-lope. Copas deh, send
back ♥, hhaaha :D.
Sifa langsung memencet tombol merah biar
lebih cepat keluarnya dari folder sent items lalu dia menaruh HPnya kembali.
Entah mengapa, hatinya jadi membara gini. Rio sudah kembali dengan membawa buku
yang dimaksudnya. Dia menyodorkan buku itu pada Sifa. Sifa mengucapkan terima
kasih lalu langsung pamit pulang. Dia pulang dengan pikiran yang tidak karuan
dan hati yang gundah-gulana.
♀ ♥ ♂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar