Welcome to my blog =D

Di blog ini, aku naruh berbagai hasil karya aku bahkan sampai sedikit curhatan tentang keseharianku. Ku harap kalian suka membacanya ^^

Jumat, 28 Desember 2012

Harus Berubah (Cerbung), by : TSM



Part 2
            Hari ini Sifa bangun lebih awal, berhubung hari ini hari Sabtu. Dia ingin main basket dilapangan tak jauh dari rumahnya. Dia keluar dari kamarnya dan menulusuri anak tangga satu persatu sambil sesekali bersiul. Rio yang sedang asyik menggontak-gantik channel TV diruang keluarga rumah Sifa tidak sadar kalau anak sang pemilik rumah sudah duduk dibangku tak jauh dari tempat dia berada. Sifa berkata pada Rio sembari mengikat tali sepatunya.
            “Itu TV bukan punya nenek moyang lo. Kalo engga niat nonton mending dimatiin aja, bisa kan?” Sifa berdiri dari tempatnya duduk lalu merapikan pakaian dan rambutnya. Rio menoleh ke arah sumber suara yang sudah tidak asing lagi dikupingnya. Rio heran saat dilihatnya Sifa sudah berpakaian kaos putih bertuliskan ‘Lombok’ dibagian depannya, celana basket warna biru muda, rambutnya dikuncir kuda, poni yang dijepit, serta handuk kecil berwarna biru bertengger dilehernya.
            “Hehe… maap maap. Abisnya bosen. Mau kemana lo? Joging? Oh, mau main basket ya? Gue ikut dong” ujar Rio seraya berdiri lalu mematikan TV dan menaruh remotenya dilemari hias tempat TV itu berada. Sifa mendengus kesal. Tapi mau tidak mau ya pokoknya harus mau, Sifa mengangguk lemah.
            “Sikat gigi dulu sono, biar engga bau jigong. Gue tunggu diruang tamu ya. Waktu lo cuma 10 menit. Dihitung dari sekarang” Rio segera berlari menuju lantai atas. Dia segera bergegas menuju kamar mandi dilantai atas. 10 menit kemudian Rio turun dengan pakaian yang tak diganti yaitu kaos putih polos dan celana basket berwarna merah. Sekarang dia memakai sepatu basket berwarna putih-biru, handband ditangan kanan, serta stopwatch yang tergantung manis dilehernya. Heh, ni cowo mau main basket apa TP-TP sih? Ujar Sifa dalam hati. Sifa bangkit dari duduknya lalu segera melangkahkan kaki keluar rumah. Rio mengikutinya dari belakang.
            “Lapangan basketnya dimana?” tanya Rio pada Sifa.
            “Engga jauh kok, deket. Bukan lapangan basket sih sebenernya, jadi tuh lapangan engga jelas, lapangan apa tau tapi ada satu ring basket yang yah..masih bisa dipake lah” jawab Sifa panjang lebar tanpa menoleh ke arah Rio. Setiba dilapangan yang dituju. Sifa dan Rio melakukan pemanasan lalu berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Setelah itu, mereka mulai bermain basket. Terlebih dahulu Sifa mendrible bola mondar-mandir dan mulai memasukkannya kedalam ring dan itu dilakukannya berulang-ulang. Tak lama kemudian, Rio merebut bola dari tangan Sifa. Dia mendrible bola dari jarak yang cukup jauh dari ring lalu berlari menuju ring dengan langkah yang panjang dan cepat, 1..2..3..happ.. Rio melompat dan memasukkan bolanya kedalam ring, bola itu masuk dengan mulus. Sifa mengambil bola yang tergelinding ditanah itu.
            “Lay up doang mah gue juga bisa kali. Lihat gue nih” Sifa mengikuti gerakkan Rio tadi, dia mulai menghitung langkah kakinya sebelum melompat 1..2..3..happ Sifa melompat dan bola masuk ke ring dengan sangat baik. Rio bertepuk tangan. Sifa hanya tersenyum simpul. Rio mengambil bola yang tergelinding itu. Lalu dia mendribel bola itu secara bergantian dengan menggunakan 2 tangan, kiri..kanan..kiri..kanan..dan seterusnya. Sifa menghela nafas.
            “Lay up mah biasa. Three point bisa engga?” tanya Rio pada Sifa.
            “Waktu gue masih SD sih bisa” jawab Sifa.
            “Jiah..dasar lo. Kalo lo bisa, gue bakal traktir lo sarapan, gimana? Tapi kalo lo kalah pasti ada hukumannya” Rio memberi tantangan pada Sifa dengan tangan yang masih mendribel bola.
            “Hukumannya apa?” tanya Sifa.
            “Rahasialah..” jawab Rio. Lalu dia tersenyum mengejek pada Sifa. Sifa memperhatikan gerakan Rio, tangannya yang sangat cepat mendrible bola, membuatnya menjadi terkagum-kagum. Rio tersenyum kembali pada Sifa saat bola yang dilemparnya masuk dengan sangat cantik ke dalam ring. Sifa berjalan ke tempat berdiri Rio tadi lalu dia menangkap bola yang dilempar Rio tadi.
“Lo cuma punya dua kesempatan” ujar Rio. Sifa mengambil ancang-ancang lalu memandang lekat-lekat ring yang ada didepannya. Dia mulai melompat dengan kedua tangan yang memegang bola basket terulur ke depan. Lalu dia mendorong bola itu hanya dengan gerakan pergelangan tangannya. Dan yapp…bolanya masuk. Sifa langsung loncat-loncat kegirangan sambil teriak-teriakan.
            “Asiikk… ditraktir..traktir.. yeyeyeye…. Soto soto soto. Aku mau makan soto. Haha…” Rio yang melihat tingkah Sifa hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sifa mengambil bola yang menggelinding kepinggir lapangan.
            “Battle by one yok sama gue” ajak Sifa pada Rio. “Yang kalah harus nyium yang menang ditengah lapangan sekolah si pemenang ya?” Rio melontarkan satu hukuman yang berhasil membuat Sifa bergidik ngeri. “Engga ada yang lain apa hukumannya? Masa tanding diluar sekolah, hukumannya malah didalem sekolah” protes Sifa. “Engga mau? Cupu” ujar Rio yang sekarang sudah berada tepat didepan Sifa. Sifa menarik napas panjang lalu menghembuskannya. “Deal” Sifa mengulurkan tangannya, lalu mereka berjabat tangan.
Pertandingan dimulai. Saat ini bola ada ditangan Sifa, dengan tangan kanan yang mendribel bola dan berlari cepat menuju ring. Tiba-tiba Rio berada disebelah kirinya, dengan tangan kiri yang bebas Sifa mencoba untuk menghadang lawannya. Berhasil, Sifa terbebas dari Rio, dia segera berlari menuju ring dan happ…bola masuk.
“Dua kosong” ujar Sifa lalu tersenyum mengejek pada Rio. Sekarang bola ada ditangan Rio, sulit untung merebut bola ditangan cowo itu karena badannya yang tinggi, serta secara fisik cowok lebih kuat dari cewek. So pasti Sifa sangat sulit merebut bolanya. Pertandingan by one itu terus berlangsung, sampai waktu menunjukkan pukul 07.00 wib.
“Dua puluh – Sembilan. Elo engga mungkin menang Sifa sayang” ujar Rio pada Sifa. Wajah Rio berada tepat didepan wajah Sifa, mereka berdua sama-sama mandi keringat. Wajah Rio yang putih, model rambut yang spike, serta keringat yang mengalir diwajah dan membasahi rambutnya membuat dia semakin terlihat cool. Sifa, wajah yang sawo mateng tapi manis, keringat yang mengalir diwajahnya, dari dahi mengalir kepipi kemudian dagu dan lalu jatuh ketanah, aura beauty naturalnya sangat terpancar.
“Jangan seneng dulu lo” ujar Sifa.
“Elo cantik juga ya kalo lagi keringetan gini. Kalahin gue ya cantik” ujar Rio pada Sifa lalu dia mengambil bola basket yang berada tak jauh dari mereka. Pertandingan by one dimulai lagi. Bola berada ditangan Sifa, sekarang dia harus ngelakuin three point, titik.. tekat Sifa. Setelah bola three point yang dilempar Sifa itu masuk, bola kembali berada ditangan Rio. Kalo lemparannya sampai masuk, bisa-bisa Sifa terkena ancaman kalah, aah..tidak..jangan sampe..kalo Sifa kalah, dia harus nyium Rio ditengah lapangan sekolahnya dong? Hieakkss.. ogah banget deh.
Saat bola yang dilempar Rio masuk, orang-orang yang menonton pertandingan mereka sejak tadi bertepuk tangan, kecuali Sifa. Dia spcheless. Aaiih.. gue kalah. Semoga aja hukumannya cuma bercanda, amin amin amin… Sifa berdoa dalam hati. Rio menghampiri Sifa dengan bola berada ditangan kirinya, “Gue menang, sayang. Haha.. Senin besok lo harus nyium gue” bisik Rio tepat dikuping Sifa.
“Kita pamit dulu ya, bro. Makasih yo udah nonton battle by one kita, hehe…” ujar Rio pada orang-orang disana -- yang terdiri dari segerombolan cowok-cowok cakep --. “Siip deh..” ujar salah satu cowok diantara gerombolan itu. Rio merangkul Sifa dengan tangan kanannya.
“Yo, hukumannya diganti aja, ya? Ya? Ya?” ujar Sifa dengan wajah yang sangat melas. Rio menggelengkan kepalanya. “Yah Rio, gue kan masih kecil belum boleh nyium-nyium orang sembarangan tauuu…” ujar Sifa semakin memelas. “Gue kan bukan orang sembarangan tauu. Jadi makan sotonya?” tanya Rio mencoba mengalihkan pembicaraan. “Jadi..jadi.. diruko ya” Sifa mendadak semangat mendengar kata soto. “Giliran makan aja langsung semangat, dasar” Rio mengacak-acak rambut Sifa. Sifa memukuli Rio tanpa ampun.
Selama perjalanan, mereka bercanda membuat orang yang ada disekeliling menoleh ke arah mereka. Sifa mencoba memutar bola basket diatas 1 jari yaitu jari telunjuk kirinya. Bukannya muter, bolanya malah gelinding kebawah. Atau sesekali mereka menceritakan lelucon. Setiba ditempat soto, mereka tak henti-hentinya bercanda. Sampai-sampai tukang soto tersenyum geli melihat mereka bercanda atau menceritakan hal gila yang pernah mereka alami.
Sifa duduk dilantai sambil meluruskan kakinya yang pegal sehabis bermain basket dengan Rio. Dia mengambil remote dan mencari channel RCTI untuk menonton film kartun kesukaannya yaitu Doroemon. Rio duduk disebelahnya Sifa, dengan kaki yang diluruskan juga. Sifa yang sedang asik menonton TV, tak sadar kalo sedari tadi dia dipanggil sama Kak’Tom. Dan akhirnya Rio yang menengok.
“Abis main basket ya?” tanya Kak’Tom pada Rio.
“Iya, kak” Kak’Tom hanya mengangguk, lalu dia pergi keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya. Film Doraemon yang ditonton Sifa dari tadi akhirnya habis juga, Sifa langsung bergegas kekamar mandi. Selang beberapa menit, dia sudah terlihat lebih segar.
“Jalan yuk, bete nih” ujar Rio pada Sifa. Sifa menoleh ke arah Rio dengan wajah yang dipasang semalas mungkin. “Ayolah Sifa cantik. Jalan sama gue yuk” rengek Rio. Sifa tetap tidak menjawab. Rio memilih jalan lain yaitu menggelidik Sifa. “Haa… riooo… udah cukup. Jangan keletikin gue. Aduh.. hahahahaha…. Iya iya. Jalan. Ayoo, udah dong. Geli tau. Hahahaha” Sifa berteriak disela tawanya dan sambil mencoba menghindar dari kelitikannya Rio. “Nah, gitu dong daritadi. Guekan engga usah pake acara kelitikin lo kalo gitu” ujar Rio. Sifa menghela nafas.
“Mau kemana?” tanya Sifa pada Rio setelah dia duduk diboncengan motor ninja warna hitam milik Rio -- Berhubung motor Kak’Tom masih ada dikostannya yaitu diBandung dan teras rumahnya masih luas dan cukup untuk memarkir motor, jadi Rio membawa motornya kerumah Sifa --. Dan Mereka sudah berpamitan pada Kak’Tom.
“Engga tau. Jalan ajalah pokoknya” jawab Rio santai.
“Yee…dasar”
“Kamu jangan bawel ya dibelakang. Kita bakal jalan seharian penuh. Sini tangannya” Rio menarik kedua tangan Sifa, mempertemukan tangan kanan Sifa dan tangan kirinya, lalu saling menyatukkannya.
“Eeeh.. apa-apaan nih? Gue engga mau” Sifa mencoba menarik tangannya tapi sia-sia. Rio menutup kaca helmnya lalu memacu motornya pergi. Sifa hanya bisa pasrah. Rio bawa motornya ngebut. Setelah beberapa lama kemudian, mereka tiba disuatu tempat. Ternyata tempat pertama yang mereka kunjungi yaitu Monas. Rio membantu Sifa turun dari motor ninjanya. Lalu dia segera turun dari motornya.
“Kalo punya motor tuh jangan gede-gede, susah tau naiknya” omel Sifa pada Rio.
“Kan cocok buat orang pacaran tauu…”
“Tapi kan gue sama lo ENGGA pacaran tauuu”
“Iya juga engga apa-apa tauu” Sifa memalingkan wajahnya, lalu berjalan lebih dulu.
“Yaah, Sifa cantik jangan ngambek dong. Nanti aku beliin balon ya? Eh, sama es krim deh. Cokelat..cokelat.. kita ke pantai deh. Shopping shopping. Krimbat?” ujar Rio panjang lebar sambil berjalan mundur.
“Minta maaf bisa kali ya” sindir Sifa.
“Ohiyadeh. Sifa cantik, aku minta maaf ya” ujar Rio sambil tersenyum manis pada Sifa. Ini yang disuka Sifa dari cowo yang ada didepannya, lesung pipi yang muncul saat dia senyum, manis banget. Sifa tersenyum, lalu jari kelingking mereka saling bertautan.
“TRAKTIIIRRR….” teriak Sifa senang. Rio melongo. Rio teringat dengan kata-katanya tadi. Terbesit ide nakal untuk mengisengi Sifa.
“Ditraktir siapa?” tanya Rio polos.
“Tau ah. Bete banget” Rio langsung merangkul Sifa.
“Bercanda Sifa sayang” ujar Rio sambil terkekeh geli. Sifa hanya manyun. “Lo kalo manyun makin cantik aja ya” ujarnya disela tawanya. Lalu mereka berkeliling monas, berfoto-foto, loncat-loncat, kejar-kejaran, ngobrol sama bule, duduk lesehan dirumput, ikutan nimbrung sama anak-anak muda yang sedang ngumpul – yang rata-rata anak cowo --, naik delman, dll. Setelah itu, mereka pergi mencari restaurant dan akhirnya mereka memilih restaurant didaerah Rawamangun. Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan ke tempat wisata lainnya didaerah Jakarta. Dan tempat selanjutnya ialah TMII.
“Ayoo kita kesana” ujar Sifa semangat sambil menarik-narik lengan baju Rio. “Iya iya. Sabar dong”.
“Abang, gulalinya satu ya” ujar Sifa dengan senyuman yang amat manis. Setelah gulali telah berada ditangannya, Sifa berkata pada penjual gulalinya sambil melirik Rio yang ada disampingnya “Bang, yang bayar dia ya”. Lalu Sifa berbalik badan dan melangkah pergi sambil mencicipi gulalinya. Rio hanya geleng-geleng kepala melihat sifat teman belum lamanya yang terkadang masih terlihat seperti anak kecil. Rio mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dompetnya.
“Yah, engga ada kembalian mas” ujar sang penjual.
“Kembalinya ambil aja bang. Sebagai ucapan terima kasih dari saya”
“Terima kasih untuk apa toh mas?” tanya sang penjual gulali yang sedang terlihat bingung.
“Karena abang udah bikin ceria cewe yang saya sayang itu” Rio langsung berbalik badan dan menyusul Sifa yang sudah berada cukup jauh. Rio tiba disebelah Sifa lalu mensejajarkan langkahnya dengan langkah cewe itu.
“Kok lama?” tanya Sifa polos yang masih sibuk mencicipi gulalinya.
“Huh, lo tuh ya udah dibeliin bukannya nungguin malah ninggalin. Bagi dong gulalinya”
“Nih.. Buka mulutnya, aaaa…” Sifa menyodorkan gulalinya kemulut Rio. Rio melahap gulali itu.
“Enakkan?” tanya Sifa dengan senyumnya yang amat manis. Membuat hati Rio berdebar-debar. Rio mengangguk-angguk sambil tersenyum.
“Lo tau engga kenapa gulali ini bisa manis dan bikin orang jadi ketagihan buat makan lagi?” tanya Rio pada Sifa. Sifa menggeleng.
“Karena, pas lagi bikin gulali abangnya ngeliatin kamu yang berwajah manis eh gulalinya jadi ikutan manis deh, hehe…” jawab Rio, lalu nyengir.
“Berarti aku disukainnya sama abang-abang dong? Yang cakepan dikit engga ada apa?” tanya Sifa polos.
“Ada. Cowo yang ada disamping kirimu ini” jawab Rio sambil tersenyum dan mengangkat-angkat alisnya ke atas. Sifa tertawa geli melihat tampang Rio.
“Eh, kok kita ngomongnya jadi campur-campur gini ya? Gue-elo. Aku-kamu, lama-lama apa ya? Ane-ente kali ya? Hehehe” Sifa berkata lalu nyengir kuda, jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf ‘V’. Mereka tertawa lepas. Setelah puas, mereka pergi ke ancol.
Sifa berlari dengan merentangkan kedua tangannya sambil berteriak sekencang-kencangnya. Rio yang berada dibelakangnya, hanya berjalan dengan santai. Sifa menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan senyum yang tercetak dibibirnya.
“Seneng engga hari ini?” tanya Rio yang sedari tadi menatap cewe manis itu.
“Banget. Makasih ya” jawab Sifa girang lalu tersenyum dengan tulus.
“Cantik..cantik..” Rio mengacak-acak rambut Sifa. Sifa melototin Rio, cowo itu langsung berlari karena dia tau pukulan heboh pasti akan manghantam badannya tanpa ampun.
“RRIIIOOOOO…………..” teriak Sifa kencang sambil terus mengejar Rio. Untung saja hari ini Sifa memakai celana pendek jadi dia gampang lari-larian. Rio terus berlari tetapi sekarang dia berlari mundur, dia ingin melihat gimana tampang cewe itu. Akhirnya Rio tertangkap sama Sifa. Sifa mukulin Rio tanpa ampun.
“Sifaa.. udah..udah.. sakit Sifa. Gue minta maaf deh. Ampun nyaaakkk” teriak Rio yang sedang dipukulin tanpa ampun sama Sifa.
“Gue bukan enyak lo tauuu” teriak Sifa semakin kesal. Matahari mulai terbenam. Mereka makin asik bermain disana yang tadinya kejar-kejaran malah main cimprat-cimpratan air pantai sambil tertawa lepas. Mereka saling berpelukan menatap matahari yang terbenam.
Terima kasih ya Allah, hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupku ujar Sifa dalam hati.
Ya Allah, semoga saja aku bisa selalu ada disamping Sifa. Membuatnya selalu ceria. Aku sayang Sifa ujar Rio dalam hati.
“Hayoo… lagi smsan sama siapa? Serius banget tadi bacanya” ledek Sifa saat dia sudah duduk didepan Rio, mereka sedang berada diayunan dihalaman depan rumah Rio.
“Eh, kapan dateng lo fa?” tanya Rio.
“Makanya jangan smsan mulu. Gue dateng aja sampe engga tau gitu” jawab Sifa. Lalu dia celingak-celinguk melihat keadaan sekeliling rumah Rio, “Nyokap lo mana, yo? Biasanya kalo jam segini lagi nyiramin bunga”.
“Cieelah, nyariin nyokap gue rupanya lo. Nyokap lagi pergi sama bi’Imah, tau deh kemana. Terus gue yang disuruh nyiramin bunga” Sifa hanya manggut-manggut.
“Ohiya. Eh gue dateng kesini cuma mau minjem buku yang waktu itu lo bilang ke gue”
“Oh yang itu, ada dikamar. Tunggu bentar ya” Rio beranjak dari ayunan itu dan dia lupa membawa Handphonenya. Sifa yang melihat itu tanpa pikir panjang langsung mengambil HP temannya karena penasaran sedang smsan dengan siapa si Rio. Untung saja Sifa sering menghitung waktu yang ditempuh dari tempat ayunan berada sampai kekamar Rio jadi dia tidak perlu khawatir jikalau Rio tiba-tiba ada disampingnya. Sifa membuka inboxnya. Sifa tidak membacanya dari awal, dia hanya membacanya dari tengah-tengah saja.

From  : Ria.
Ohya? Masa sih? Dulu aku sempet naksir juga loh sama kamu :).

From  : Ria.
Hahaha… kamu bisa aja deh. Aku kangen sama kamu, kapan nih kita bisa ketawa bareng lagi kaya dulu?

From  : Ria.
Ih kamu mah, aku serius tauuu…. Aku ngambek sama kamu :p

From : Ria.
Masa dibeliin permen doang. Beliin aku gulali yang gede bangeettt…

From  : Ria.
Tuhkan, kamu pelitkan. Engga jadi ketemuan deh.

From  : Ria.
Ih.. cium cium, wueee *muntah*. Eh tapi cium balik juga deh :*, hehe… love you ♥.
            Lalu Sifa membaca sent itemsnya.
For      : Ria.
Dulu aku pernah naksir sama kamu loh :)

For      : Ria.
Ternyata ga bertepuk sebelah tangan. Tau gitu, dulu aku nembak kamu aja deh.

For      : Ria.
Ciee… kangen sama aku. Aku kangen sama suara kamu yg bisa bikin gendang telinga pecah.


For      : Ria.
Yah, jangan ngambek dong. Aku beliin permen yg banyak deh :)

For      : Ria.
Bisa tekor aku kalo ketemu sama kamu lgi. Belum ketemu aja udah minta gulali, yg gede lgi.

For      : Ria.
Bukan pelit tapi hemat. Yah, masa ga jadi. Jadi dong :*.

For      : Ria.
Yee dasar. Jiah, aku dikasih lope-lope. Copas deh, send back ♥, hhaaha :D.
            Sifa langsung memencet tombol merah biar lebih cepat keluarnya dari folder sent items lalu dia menaruh HPnya kembali. Entah mengapa, hatinya jadi membara gini. Rio sudah kembali dengan membawa buku yang dimaksudnya. Dia menyodorkan buku itu pada Sifa. Sifa mengucapkan terima kasih lalu langsung pamit pulang. Dia pulang dengan pikiran yang tidak karuan dan hati yang gundah-gulana.
                                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar