Part 3
Setiba dirumah, Sifa langsung
berlari kekamarnya. Dan membanting pintu kamarnya. Untung saja orangtuanya dan
Kak’Rud sedang pergi mengantar adiknya membeli sepatu futsal. Dan Kak’Tom
seperti biasa, ngumpul dirumah temennya.
“Gue kenapa sih ya? Kok hati gue
jadi engga enak gini sih?” Sifa mondar-mandir tidak karuan, memikirkan perasaan
yang tidak jelas ini.
“AAAHH… tau dah ah. Engga ngerti gue,
puyeeng” Sifa berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Cewe itu frustasi. Lalu
dia berbaring ditempat tidurnya dan memasang headset dikupingnya dengan volume
yang gila-gilaan. Sifa tertidur pulas.
♀ ♥ ♂
“Cantiik… kemaren kok engga main
kerumah gue sih?” tanya Rio pada Sifa.
“Sibuk” jawabnya singkat, padat, dan
jelas.
“Sibuk apa sih? Emang lo ikut
ekskul? Engga kan?” Sifa tidak merespon ucapan Rio tadi.
“Fa, lo marah sama gue? Kalo iya,
kenapa? Bilang aja, fa” ujar Rio dengan ekspresi yang melas.
“Lo bisa diem engga sih? Besok gue
ada ulangan MTK sama Fisika, jadi tolong jangan ganggu gue. Ngerti?” bentak
Sifa lalu beranjak pergi dari balkon. Rio masih terdiam. Selama kenal dengan
Sifa, baru kali ini dia dibentak dengan cewe manis itu. Dan dia sangat
spcheeless.
“Tuh cewe kenapa sih?
Lagi..lagi..apa sih itu namanya, dari P. Apa ya? P..p..p.. telpon” HP Rio berdering,
bertanda ada telpon masuk. Rio berdecak kesal “ Halah, P.. dari P lah pokoknya.
Tau deh apaan, PMR kali ya? Au ah, kenapa jadi mikirin itu” lalu Rio mengangkat
telfonnya.
“Hallo” sapa Rio.
“Hai, Rio. Ini aku Ria” ujar cewe
disebrang sana.
“Oh, hai. Kamu ganti nomer?” tanya
Rio.
“Iya nih. Nomer aku yang lama
keblokir gara-gara lupa pass, bete deh jadinya”
“Tabah aja deh ya” ujar Rio lalu
tersenyum. Dia menatap bintang, membuatnya teringat saat dia dan Sifa
mengucapkan kalimat yang sangat sama lalu mereka berpelukan. Tanpa sadar dia
tersenyum. Sifa yang sebenarnya mengintip di jendela sejak tadi sedang
penasaran siapa orang yang sedang menelfon Rio.
“Iya deh. Huh, capek juga ya
ternyata smsin orang satu-satu. Gempor deh nih jari, hah. Ohiya, kamu lagi apa
nih yo?”
“Haha.. Ria..Ria ada-ada aja sih.
Aku lagi liatin bintang aja nih. Bintangnya cantik-cantik banget”
Oh si Ria toh rupanya. Gue mesti cari tahu semua tentang cewe itu ujar
Sifa dalam hati. Sifa akhirnya berhenti memantau Rio, dia masuk ke kamarnya
untuk belajar buat ulangan besok.
♀ ♥ ♂
Keesokkannya, disekolah. Sifa
berjalan gontai dikoridor sekolah. Hari ini penampilannya super duper hancur
banget. Rambut yang digerai dengan poni yang engga jelas bentuknya kaya apa.
Dasi yang sudah bertengger manis dikerah kemeja sekolahnya tetapi belum dirapihkan,
kaus kaki pendek, sepatu warna biru muda, jam tangan warna putih ditangan
kirinya, gelang pemberian Rio yang berderet ditangan kanannya, dan kuku yang
lupa digunting. Setiba dikelas.
“Ya ampun Sifa. Elo kenapa?
Berantakan amat” Via, teman sebangku Sifa tercengang melihat penampilan Sifa
pagi itu.
“Tumben lo komen soal penampilan
gue” balas Sifa dengan nada sinis. Dia melanjutkan jalannya menuju bangkunya
yang berada paling pojok. Baru saja dia menaruh tas, bel sudah berbunyi.
Saatnya upacara. Sifa menuruni tangga sambil merapihkan dasinya. Rambutnya yang
indah masih tergerai, padahal dia sangat ingat kalau peraturan disekolah ini
‘Bagi murid perempuan, rambut harus dikuncir! Kalo engga bakal dicukur sampai
botak!’ dulu peraturan ini sangat dipatuhi oleh Sifa tapi entah kenapa hari ini
dia ingin melanggar semua peraturan yang ada. Dia sudah tiba dilapangan. Sifa
memakai topinya, upacara dimulai. Setelah 30 menit upacara berlangsung,
akhirnya selesai juga. Sifa yang sedang asyik berjalan sendiri tiba-tiba
dipanggil sama salah satu guru.
“Hey kamu” panggil guru itu. Sifa
yang belum sadar juga kalo dirinyalah yang dipanggil tetap melangkah dengan
santainya menuju kelasnya yang berada dilantai 2. Dan tiba-tiba tangannya
ditarik. Sifa menoleh siapa orang yang sudah berani menarik tangannya dengan
seenaknya. Dan ternyata orang itu adalah guru terkiller disekolahnya.
“Kenapa ya bu?” tanya Sifa polos.
“Peraturan disekolah ini apa?” tanya
guru itu.
“Saya engga apal, bu. Kalo yang
bikin peraturannya saya sendiri, saya pasti apal, bu” jawab Sifa santai.
“SAYA SERIUS” guru itu berkata
dengan suara yang sangat lantang, membuat semua warga sekolahnya menatap 2
orang yang berada ditengah lapangan.
“Bukannya nama ibu itu Ina ya?” Sifa
masih dengan tampang polosnya, dan entah dateng darimana sekarang suara Sifa
jadi ikutan lantang sehingga warga sekolah mendengar ucapannya. Teman-teman
serta adik kelas Sifa menahan tawa mendengar ucapan Sifa barusan.
“KAMU BERANI MAIN-MAIN DENGAN
SAYA????” tanya Ibu Ina lantang, sekarang dia sudah tidak bisa menahan
emosinya.
“Ibu jangan teriak-teriak kenapa
sih. Saya engga budek kok” Sifa mengusap-usap kupingnya.
“KENAPA KAMU MELANGGAR PERATURAN?”
“Melanggar gimana sih, bu? Saya
engga ngerti deh” Sifa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Lihat penampilanmu!”
“Penampilan saya?” Sifa mengoreksi
penampilannya dari dasi, gesper, rok, kaus kaki yang saking pendeknya sampai
tidak kelihatan, sepatu yang tidak sesuai dengan peraturan. Sifa geleng-geleng
kepala lalu dia menatap Ibu Ina sambil tersenyum.
“Penampilan saya keren ya, bu?”
tanya Sifa pada Ibu Ina sambil bergaya dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi lalu
tersenyum lebar. Tawa teman-teman dan adik kelasnya meledak juga, mereka sudah
tidak kuat menahan tawa. Baru kali ini, ada murid yang berani menjawab semua
perkataan guru killer itu. Dan
ditambah lagi, murid itu perempuan yang terkenal paling kalem lagi, gila engga
tuh? Ibu Ina sudah geram, dia mengepalkan kedua tanganya dengan keras dan
menggertakkan giginya.
“KAMU”
“Saya? Saya cantik? Aduh, makasih ibu. Tanpa ibu bilangpun, saya udah sadar dari dulu-dulu, bu”
“Saya? Saya cantik? Aduh, makasih ibu. Tanpa ibu bilangpun, saya udah sadar dari dulu-dulu, bu”
“KAMU BERDIRI DISINI SAMPAI PULANG
SEKOLAH!!!!” perintah Ibu Ina dengan suara yang semakin lantang.
“Kalo bel istirahat, saya ikutan
istirahatkan bu? Oke deh. SIAP BU, PERINTAH DITERIMA” Sifa hormat sama Ibu Ina.
Bu Ina meninggalkan lapangan dengan wajah yang memerah karena menahan marah.
Sifa celingak-celinguk, melihat koridor bawah dan atas, bahkan sampai tangga
dibanjiri dengan murid-murid sekolah itu.
“KALO MAU MINTA TANDA TANGAN NANTI
YA. SEKARANG GUE LAGI DIHUKUM DULU NIH” Sifa berteriak dengan pedenya.
Sorakanpun terdengar seantero sekolah. Semua murid masuk kekelas masing-masing
karena pelajaran telah dimulai. Sekarang tinggal Sifa dilapangan seorang diri.
Kenapa
gue jadi kaya gini ya? Cuma karna Rio dalam sekejap gue bisa berubah drastis.
Awal ketemu, gue langsung akrab sama dia. Gue bisa jadi ceria kalo lagi sama
dia. Dan sekarang gue jadi cewe psyco, ckck… hebat banget deh lo, yo. Salut
gue. Ujar Sifa dalam hati. Sifa sekarang sedang duduk bersilang sambil
menopang dagu ditengah lapangan. Dia menatap nanar sepatu dan gelang yang
berada didepannya. Dia bingung mesti gimana. Sifa engga tau apa yang bakal
terjadi dalam hidupnya setelah insiden ini. Dia kembali mengacak-acak
rambutnya. Dan sekarang rambutnya sudah sangat berantakkan.
Sudah 2 jam lebih Sifa duduk ditengah
lapangan. Dan dia baru teringat, kalau sehabis istirahat nanti dikelasnya ada
ulangan MTK. Mampus deh gue, gue pasti
engga boleh ikut ulangan nih. Gimana dong nih? Ya Allah bantu Ifa… Sifa
berucap dalam hati. Bel istirahatpun berbunyi. Sifa langsung berlari kekantin.
Dia menuju gerobak soto lalu memesan satu mangkuk soto. Setelah satu mangkuk
soto berpindah ketangannya, dia segera memesan minuman. Sifa yang sedang asik
melahap sotonya, dalam sekejap sudah dikerubungi sama teman-temannya. Berbagai
pertanyaan dilontarkan sama teman-temannya. Selesai makan, Sifa langsung segera
pergi dari kerumunan itu. Dia pergi menuju ruang guru untuk menghadap ke guru
Matematika yang mengajar dikelasnya. Dia berlari dikoridor sambil mengikat
rambutnya yang panjang. Dan BUKK… dia menabrak seseorang.
“Aduh.. eh kalo mau lari-larian tuh
jangan dikoridor” ujar orang itu kesal.
“Nyante aja kali bang ngomongnya!
Maap gue buru-buru” Sifa melanjutkan aksi larinya. Setiba didepan pintu ruang
guru, Sifa merapihkan penampilannya. Dengan sedikit keberaniannya, dipaksalah
kakinya untuk melangkah masuk keruangan itu.
“Assalamualaikum” Sifa mengucapkan
salam dengan canggung. Dia langsung berjalan menuju meja guru Matematikanya.
“Ibu, saya Sifa dari kelas 9 b. Yang
tadi dihukum sama Ibu Ina. Bu, nanti saya di izinin ikut ulangankan bu???
Semalem saya udah belajar sampe jam satu loh bu. Sampe saya bangunnya kesiangan
terus penampilannya saya jadi engga jelas gini deh” ujar Sifa panjang lebar.
Sebenarnya Sifa belum tidur sampai jam 1 bukan karena belajar Matematika,
tetapi karena sibuk memikirkan perasaannya dengan Rio. Dan penampilannya yang
berantakan juga dengan sedikit faktor kesengajaan dari dirinya sendiri. Jadi,
Sifa sedikit berbohong.
“Boleh ya bu? Saya tuh bener-bener
engga sengaja, suer deh bu. Terus juga saya khilaf bu”
“Kamu tanya ke Ibu Ina sana. Yang
hukum kamu kan dia bukan Ibu” Sifa langsung berjalan menuju meja Ibu Ina dan
untungnya tuh guru lagi duduk ditempatnya.
“Ibu Ina saya minta maaf soal yang
tadi. Saya bener-bener khilaf, bu. Suer deh. Nanti saya dibolehin ikut ulangan
MTK engga bu? Tadi saya udah tanya sama Bu Ida terus katanya tanya ibu aja soalnya
kan ibu yang ngasih hukuman ke saya”
“Dengan syarat, sepulang sekolah
nanti kamu tidak boleh langsung pulang”
“Gampang itu mah, bu. Makasih ya bu.
Muah muah muah” Sifa menyalami Ibu Ina lalu menciumi pipi kiri-kanan-dan kening
gurunya itu. Dia berlari kembali menuju meja guru MTKnya itu. Sifapun dibolehin
mengikuti ulangan nanti. Dia keluar ruang guru dengan perasaan senang.
Udah
terlanjur bohong. Mau engga mau harus dilanjutin. Maafkan aku Ya Allah ujar
Sifa dalam hati sambil melangkah menuju kelasnya.
Setiba dikelas.
“Tadi lo ngapain ke ruang guru?”
tanya Via.
“Ngapain aja boleh” jawab Sifa asal.
“Huh, dasar”
♀ ♥ ♂
Sifa membaringkan tubuhnya ditempat
tidur. Capek juga bantu Pak Salih bersihin sekolah, dari pintu gerbang sampai
ke gudang sekolah. Dan dia teringat suatu kejadian tadi.
Flashback.
Sifa yang sedang asyik berjalan
sambil sesekali menendang kerikil-kerikil kecil ditanah, tersentak dengan
kehadiran seseorang.
“Ayo pulang” Rio menarik tangan Sifa
dengan lembut.
“Gue bisa pulang sendiri” ucap Sifa
dengan penekanan disetiap kata.
“Lo tuh kenapa sih? Dari kemaren tuh
aneh banget sama gue”
“Bukan urusan lo” jawab Sifa ketus,
lalu pergi meninggalkan Rio yang keheranan dengan perubahan sifatnya itu.
Flashback end.
Sifa juga heran dengan sifatnya
akhir-akhir ini. Atau mungkin dia cemburu karena Rio sedang dekat-dekatnya
dengan seseorang? Sifa engga ngerti sama sekali.
“Sifa makan dulu” teriak mamanya
dari bawah.
“Iya ma” teriak Sifa dari kamarnya.
Sifa langsung bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berganti pakaian. Setiba
dilantai bawah, dia langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta
lauk-pauk yang ada dimeja makan. Lalu dia melahapnya sampai habis. Setelah
makan, Sifa kembali kekamar.
Bentar
lagi UN, kalo gini terus bisa-bisa nilai gue ancur. Mau engga mau, gue harus
ngejauh dari Rio. HARUS!!! Sifa bertekad dalam hati.
Berbulan-bulan Rio benar-benar tidak
bersama lagi dengan Sifa. Boro-boro bersama, ketemu saja tidak. Tapi Rio selalu
berusaha mencari tau kesalahan yang sudah diperbuatnya sampai membuat Sifa
marah besar kepadanya. Sedangkan Sifa, sekarang dia benar-benar mengerahkan
seluruh jiwa-raganya untuk menghadapi UN. Sifa sengaja mengisi seluruh waktunya
untuk berbagai macam kegiatan, tujuan utamanya agar dia tidak punya waktu untuk
berjumpa dengan Rio. Setiap Rio sms ataupun telfon selalu diabaikan. Kalau Sifa
sedang online dan pada saat itu Rio juga online, saat Rio nge-chat Sifa, cewe itu langsung offline.
Sifa membuat jadwal setiap hari sampai sepadat mungkin.
Tinggal menghitung
hari, Sifa akan menghadapi ulangan. Dan pada saat itu juga masalah baru datang
menghampirinya. Winda, sahabat Sifa tiba-tiba mengirimkan sms dan dalam sms itu
Winda mengajak Sifa ketemuan. Tumben banget, baru pertama kali malah.
Akhirnya Sifa pergi
ketempat yang telah ditentukan Winda, walau dengan sedikit masalah yaitu dia
harus berdebat dengan mama dan adiknya selalu jadi pembisik yang tidak baik
untuk didengar, Sifa biasa memanggilnya ‘Si Kompor’. Mamanya tidak
mengijinkannya pergi tapi dengan beribu kata-kata yang terbesit diotak, Sifa
menjawab semua kata-kata mamanya.
Setiba disebuah
restaurant. Sifa menuju meja tempat Winda berada. Saat menyadari kedatangan
Sifa, Winda mempersilahkan cewe itu duduk.
“Tumben ngajak gue ketemuan.
Kenapa?”
“Lo pernah jalan
bareng sama pacar gue?” tanya Winda to the point. Sifa mencoba mengingat-ingat.
Winda memasang wajah yang menunjukkan kalau dirinya sedang dibakar api cemburu.
“Seinget gue sih
pernah. Emang kenapa?” tanya Sifa polos.
“Lo tuh ya, bego
dipelihara. Gue aja cewenya engga pernah jalan bareng. Lah elo yang bukan
siapa-siapanya malah jalan bareng, engga bilang-bilang gue lagi!” jawab Winda
kesal.
“Maap. Itu juga dia
yang minta bukan gue”
“Tapi tetep aja
intinya lo jalan bareng dia!”
“Terserah deh, gue
ngalah aja. Terus kenapa?”
“Gue peringatin ya
kalo dia minta jalan bareng lagi jangan mau!”
“Tapi dia ngancem..”
belum selesai Sifa bicara, Winda sudah memotongnya.
“Bilang aja lo juga suka
sama dia, iyakan? Jujur aja! Gue mesti akuin cowo gue emang cakep dan banyak
cewe yang naksir sama dia, sampe-sampe SAHABAT GUE SENDIRI bisa naksir sama
dia” Winda menekan kata ‘sahabat gue sendiri’.
“Win, dengerin
penjelasan gue dulu. Gue engga naksir sama dia, sumpah demi apapun deh. Itu
juga gue cuma sekali kok jalannya” Winda beranjak dari tempatnya duduk, Sifa
pun ikut berdiri.
“Halah, basi tau
engga? Kalo sampe gue tau lo masih jalan sama dia lagi. Persahabatan kita
putus!” Winda berlalu dari hadapan Sifa. Sifa terduduk lemas.
“Ya Allah cobaan
apalagi ini? Hidup gue kok abstrak ya? Bangke!” Sifa menutup mukanya. Cewe itu
sudah frustasi tingkat akut.
♀ ♥ ♂
Tidak ada komentar:
Posting Komentar