Welcome to my blog =D

Di blog ini, aku naruh berbagai hasil karya aku bahkan sampai sedikit curhatan tentang keseharianku. Ku harap kalian suka membacanya ^^

Jumat, 28 Desember 2012

Harus Berubah (Cerbung), by : TSM



Part 3
            Setiba dirumah, Sifa langsung berlari kekamarnya. Dan membanting pintu kamarnya. Untung saja orangtuanya dan Kak’Rud sedang pergi mengantar adiknya membeli sepatu futsal. Dan Kak’Tom seperti biasa, ngumpul dirumah temennya.
            “Gue kenapa sih ya? Kok hati gue jadi engga enak gini sih?” Sifa mondar-mandir tidak karuan, memikirkan perasaan yang tidak jelas ini.
            “AAAHH… tau dah ah. Engga ngerti gue, puyeeng” Sifa berteriak sambil mengacak-acak rambutnya. Cewe itu frustasi. Lalu dia berbaring ditempat tidurnya dan memasang headset dikupingnya dengan volume yang gila-gilaan. Sifa tertidur pulas.
            “Cantiik… kemaren kok engga main kerumah gue sih?” tanya Rio pada Sifa.
            “Sibuk” jawabnya singkat, padat, dan jelas.
            “Sibuk apa sih? Emang lo ikut ekskul? Engga kan?” Sifa tidak merespon ucapan Rio tadi.
            “Fa, lo marah sama gue? Kalo iya, kenapa? Bilang aja, fa” ujar Rio dengan ekspresi yang melas.
            “Lo bisa diem engga sih? Besok gue ada ulangan MTK sama Fisika, jadi tolong jangan ganggu gue. Ngerti?” bentak Sifa lalu beranjak pergi dari balkon. Rio masih terdiam. Selama kenal dengan Sifa, baru kali ini dia dibentak dengan cewe manis itu. Dan dia sangat spcheeless.
            “Tuh cewe kenapa sih? Lagi..lagi..apa sih itu namanya, dari P. Apa ya? P..p..p.. telpon” HP Rio berdering, bertanda ada telpon masuk. Rio berdecak kesal “ Halah, P.. dari P lah pokoknya. Tau deh apaan, PMR kali ya? Au ah, kenapa jadi mikirin itu” lalu Rio mengangkat telfonnya.
            “Hallo” sapa Rio.
            “Hai, Rio. Ini aku Ria” ujar cewe disebrang sana.
            “Oh, hai. Kamu ganti nomer?” tanya Rio.
            “Iya nih. Nomer aku yang lama keblokir gara-gara lupa pass, bete deh jadinya”
            “Tabah aja deh ya” ujar Rio lalu tersenyum. Dia menatap bintang, membuatnya teringat saat dia dan Sifa mengucapkan kalimat yang sangat sama lalu mereka berpelukan. Tanpa sadar dia tersenyum. Sifa yang sebenarnya mengintip di jendela sejak tadi sedang penasaran siapa orang yang sedang menelfon Rio.
            “Iya deh. Huh, capek juga ya ternyata smsin orang satu-satu. Gempor deh nih jari, hah. Ohiya, kamu lagi apa nih yo?”
            “Haha.. Ria..Ria ada-ada aja sih. Aku lagi liatin bintang aja nih. Bintangnya cantik-cantik banget”
            Oh si Ria toh rupanya. Gue mesti cari tahu semua tentang cewe itu ujar Sifa dalam hati. Sifa akhirnya berhenti memantau Rio, dia masuk ke kamarnya untuk belajar buat ulangan besok.
            Keesokkannya, disekolah. Sifa berjalan gontai dikoridor sekolah. Hari ini penampilannya super duper hancur banget. Rambut yang digerai dengan poni yang engga jelas bentuknya kaya apa. Dasi yang sudah bertengger manis dikerah kemeja sekolahnya tetapi belum dirapihkan, kaus kaki pendek, sepatu warna biru muda, jam tangan warna putih ditangan kirinya, gelang pemberian Rio yang berderet ditangan kanannya, dan kuku yang lupa digunting. Setiba dikelas.
            “Ya ampun Sifa. Elo kenapa? Berantakan amat” Via, teman sebangku Sifa tercengang melihat penampilan Sifa pagi itu.
            “Tumben lo komen soal penampilan gue” balas Sifa dengan nada sinis. Dia melanjutkan jalannya menuju bangkunya yang berada paling pojok. Baru saja dia menaruh tas, bel sudah berbunyi. Saatnya upacara. Sifa menuruni tangga sambil merapihkan dasinya. Rambutnya yang indah masih tergerai, padahal dia sangat ingat kalau peraturan disekolah ini ‘Bagi murid perempuan, rambut harus dikuncir! Kalo engga bakal dicukur sampai botak!’ dulu peraturan ini sangat dipatuhi oleh Sifa tapi entah kenapa hari ini dia ingin melanggar semua peraturan yang ada. Dia sudah tiba dilapangan. Sifa memakai topinya, upacara dimulai. Setelah 30 menit upacara berlangsung, akhirnya selesai juga. Sifa yang sedang asyik berjalan sendiri tiba-tiba dipanggil sama salah satu guru.
            “Hey kamu” panggil guru itu. Sifa yang belum sadar juga kalo dirinyalah yang dipanggil tetap melangkah dengan santainya menuju kelasnya yang berada dilantai 2. Dan tiba-tiba tangannya ditarik. Sifa menoleh siapa orang yang sudah berani menarik tangannya dengan seenaknya. Dan ternyata orang itu adalah guru terkiller disekolahnya.
            “Kenapa ya bu?” tanya Sifa polos.
            “Peraturan disekolah ini apa?” tanya guru itu.
            “Saya engga apal, bu. Kalo yang bikin peraturannya saya sendiri, saya pasti apal, bu” jawab Sifa santai.
            “SAYA SERIUS” guru itu berkata dengan suara yang sangat lantang, membuat semua warga sekolahnya menatap 2 orang yang berada ditengah lapangan.
            “Bukannya nama ibu itu Ina ya?” Sifa masih dengan tampang polosnya, dan entah dateng darimana sekarang suara Sifa jadi ikutan lantang sehingga warga sekolah mendengar ucapannya. Teman-teman serta adik kelas Sifa menahan tawa mendengar ucapan Sifa barusan.
            “KAMU BERANI MAIN-MAIN DENGAN SAYA????” tanya Ibu Ina lantang, sekarang dia sudah tidak bisa menahan emosinya.
            “Ibu jangan teriak-teriak kenapa sih. Saya engga budek kok” Sifa mengusap-usap kupingnya.
            “KENAPA KAMU MELANGGAR PERATURAN?”
            “Melanggar gimana sih, bu? Saya engga ngerti deh” Sifa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
            “Lihat penampilanmu!”
            “Penampilan saya?” Sifa mengoreksi penampilannya dari dasi, gesper, rok, kaus kaki yang saking pendeknya sampai tidak kelihatan, sepatu yang tidak sesuai dengan peraturan. Sifa geleng-geleng kepala lalu dia menatap Ibu Ina sambil tersenyum.
            “Penampilan saya keren ya, bu?” tanya Sifa pada Ibu Ina sambil bergaya dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi lalu tersenyum lebar. Tawa teman-teman dan adik kelasnya meledak juga, mereka sudah tidak kuat menahan tawa. Baru kali ini, ada murid yang berani menjawab semua perkataan guru killer itu. Dan ditambah lagi, murid itu perempuan yang terkenal paling kalem lagi, gila engga tuh? Ibu Ina sudah geram, dia mengepalkan kedua tanganya dengan keras dan menggertakkan giginya.
            “KAMU”
            “Saya? Saya cantik? Aduh, makasih ibu. Tanpa ibu bilangpun, saya udah sadar dari dulu-dulu, bu”
            “KAMU BERDIRI DISINI SAMPAI PULANG SEKOLAH!!!!” perintah Ibu Ina dengan suara yang semakin lantang.
            “Kalo bel istirahat, saya ikutan istirahatkan bu? Oke deh. SIAP BU, PERINTAH DITERIMA” Sifa hormat sama Ibu Ina. Bu Ina meninggalkan lapangan dengan wajah yang memerah karena menahan marah. Sifa celingak-celinguk, melihat koridor bawah dan atas, bahkan sampai tangga dibanjiri dengan murid-murid sekolah itu.
            “KALO MAU MINTA TANDA TANGAN NANTI YA. SEKARANG GUE LAGI DIHUKUM DULU NIH” Sifa berteriak dengan pedenya. Sorakanpun terdengar seantero sekolah. Semua murid masuk kekelas masing-masing karena pelajaran telah dimulai. Sekarang tinggal Sifa dilapangan seorang diri.
            Kenapa gue jadi kaya gini ya? Cuma karna Rio dalam sekejap gue bisa berubah drastis. Awal ketemu, gue langsung akrab sama dia. Gue bisa jadi ceria kalo lagi sama dia. Dan sekarang gue jadi cewe psyco, ckck… hebat banget deh lo, yo. Salut gue. Ujar Sifa dalam hati. Sifa sekarang sedang duduk bersilang sambil menopang dagu ditengah lapangan. Dia menatap nanar sepatu dan gelang yang berada didepannya. Dia bingung mesti gimana. Sifa engga tau apa yang bakal terjadi dalam hidupnya setelah insiden ini. Dia kembali mengacak-acak rambutnya. Dan sekarang rambutnya sudah sangat berantakkan.
            Sudah 2 jam lebih Sifa duduk ditengah lapangan. Dan dia baru teringat, kalau sehabis istirahat nanti dikelasnya ada ulangan MTK. Mampus deh gue, gue pasti engga boleh ikut ulangan nih. Gimana dong nih? Ya Allah bantu Ifa… Sifa berucap dalam hati. Bel istirahatpun berbunyi. Sifa langsung berlari kekantin. Dia menuju gerobak soto lalu memesan satu mangkuk soto. Setelah satu mangkuk soto berpindah ketangannya, dia segera memesan minuman. Sifa yang sedang asik melahap sotonya, dalam sekejap sudah dikerubungi sama teman-temannya. Berbagai pertanyaan dilontarkan sama teman-temannya. Selesai makan, Sifa langsung segera pergi dari kerumunan itu. Dia pergi menuju ruang guru untuk menghadap ke guru Matematika yang mengajar dikelasnya. Dia berlari dikoridor sambil mengikat rambutnya yang panjang. Dan BUKK… dia menabrak seseorang.
            “Aduh.. eh kalo mau lari-larian tuh jangan dikoridor” ujar orang itu kesal.
            “Nyante aja kali bang ngomongnya! Maap gue buru-buru” Sifa melanjutkan aksi larinya. Setiba didepan pintu ruang guru, Sifa merapihkan penampilannya. Dengan sedikit keberaniannya, dipaksalah kakinya untuk melangkah masuk keruangan itu.
            “Assalamualaikum” Sifa mengucapkan salam dengan canggung. Dia langsung berjalan menuju meja guru Matematikanya.
            “Ibu, saya Sifa dari kelas 9 b. Yang tadi dihukum sama Ibu Ina. Bu, nanti saya di izinin ikut ulangankan bu??? Semalem saya udah belajar sampe jam satu loh bu. Sampe saya bangunnya kesiangan terus penampilannya saya jadi engga jelas gini deh” ujar Sifa panjang lebar. Sebenarnya Sifa belum tidur sampai jam 1 bukan karena belajar Matematika, tetapi karena sibuk memikirkan perasaannya dengan Rio. Dan penampilannya yang berantakan juga dengan sedikit faktor kesengajaan dari dirinya sendiri. Jadi, Sifa sedikit berbohong.
            “Boleh ya bu? Saya tuh bener-bener engga sengaja, suer deh bu. Terus juga saya khilaf bu”
            “Kamu tanya ke Ibu Ina sana. Yang hukum kamu kan dia bukan Ibu” Sifa langsung berjalan menuju meja Ibu Ina dan untungnya tuh guru lagi duduk ditempatnya.
            “Ibu Ina saya minta maaf soal yang tadi. Saya bener-bener khilaf, bu. Suer deh. Nanti saya dibolehin ikut ulangan MTK engga bu? Tadi saya udah tanya sama Bu Ida terus katanya tanya ibu aja soalnya kan ibu yang ngasih hukuman ke saya”
            “Dengan syarat, sepulang sekolah nanti kamu tidak boleh langsung pulang”
            “Gampang itu mah, bu. Makasih ya bu. Muah muah muah” Sifa menyalami Ibu Ina lalu menciumi pipi kiri-kanan-dan kening gurunya itu. Dia berlari kembali menuju meja guru MTKnya itu. Sifapun dibolehin mengikuti ulangan nanti. Dia keluar ruang guru dengan perasaan senang.
            Udah terlanjur bohong. Mau engga mau harus dilanjutin. Maafkan aku Ya Allah ujar Sifa dalam hati sambil melangkah menuju kelasnya.
Setiba dikelas.
            “Tadi lo ngapain ke ruang guru?” tanya Via.
            “Ngapain aja boleh” jawab Sifa asal.
            “Huh, dasar”
            Sifa membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Capek juga bantu Pak Salih bersihin sekolah, dari pintu gerbang sampai ke gudang sekolah. Dan dia teringat suatu kejadian tadi.
Flashback.
            Sifa yang sedang asyik berjalan sambil sesekali menendang kerikil-kerikil kecil ditanah, tersentak dengan kehadiran seseorang.
            “Ayo pulang” Rio menarik tangan Sifa dengan lembut.
            “Gue bisa pulang sendiri” ucap Sifa dengan penekanan disetiap kata.
            “Lo tuh kenapa sih? Dari kemaren tuh aneh banget sama gue”
            “Bukan urusan lo” jawab Sifa ketus, lalu pergi meninggalkan Rio yang keheranan dengan perubahan sifatnya itu.
Flashback end.
            Sifa juga heran dengan sifatnya akhir-akhir ini. Atau mungkin dia cemburu karena Rio sedang dekat-dekatnya dengan seseorang? Sifa engga ngerti sama sekali.
            “Sifa makan dulu” teriak mamanya dari bawah.
            “Iya ma” teriak Sifa dari kamarnya. Sifa langsung bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berganti pakaian. Setiba dilantai bawah, dia langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk-pauk yang ada dimeja makan. Lalu dia melahapnya sampai habis. Setelah makan, Sifa kembali kekamar.
            Bentar lagi UN, kalo gini terus bisa-bisa nilai gue ancur. Mau engga mau, gue harus ngejauh dari Rio. HARUS!!! Sifa bertekad dalam hati.
            Berbulan-bulan Rio benar-benar tidak bersama lagi dengan Sifa. Boro-boro bersama, ketemu saja tidak. Tapi Rio selalu berusaha mencari tau kesalahan yang sudah diperbuatnya sampai membuat Sifa marah besar kepadanya. Sedangkan Sifa, sekarang dia benar-benar mengerahkan seluruh jiwa-raganya untuk menghadapi UN. Sifa sengaja mengisi seluruh waktunya untuk berbagai macam kegiatan, tujuan utamanya agar dia tidak punya waktu untuk berjumpa dengan Rio. Setiap Rio sms ataupun telfon selalu diabaikan. Kalau Sifa sedang online dan pada saat itu Rio juga online, saat Rio nge-chat Sifa, cewe itu langsung offline. Sifa membuat jadwal setiap hari sampai sepadat mungkin.
Tinggal menghitung hari, Sifa akan menghadapi ulangan. Dan pada saat itu juga masalah baru datang menghampirinya. Winda, sahabat Sifa tiba-tiba mengirimkan sms dan dalam sms itu Winda mengajak Sifa ketemuan. Tumben banget, baru pertama kali malah.
Akhirnya Sifa pergi ketempat yang telah ditentukan Winda, walau dengan sedikit masalah yaitu dia harus berdebat dengan mama dan adiknya selalu jadi pembisik yang tidak baik untuk didengar, Sifa biasa memanggilnya ‘Si Kompor’. Mamanya tidak mengijinkannya pergi tapi dengan beribu kata-kata yang terbesit diotak, Sifa menjawab semua kata-kata mamanya.
Setiba disebuah restaurant. Sifa menuju meja tempat Winda berada. Saat menyadari kedatangan Sifa, Winda mempersilahkan cewe itu duduk.
“Tumben ngajak gue ketemuan. Kenapa?”
“Lo pernah jalan bareng sama pacar gue?” tanya Winda to the point. Sifa mencoba mengingat-ingat. Winda memasang wajah yang menunjukkan kalau dirinya sedang dibakar api cemburu.
“Seinget gue sih pernah. Emang kenapa?” tanya Sifa polos.
“Lo tuh ya, bego dipelihara. Gue aja cewenya engga pernah jalan bareng. Lah elo yang bukan siapa-siapanya malah jalan bareng, engga bilang-bilang gue lagi!” jawab Winda kesal.
“Maap. Itu juga dia yang minta bukan gue”
“Tapi tetep aja intinya lo jalan bareng dia!”
“Terserah deh, gue ngalah aja. Terus kenapa?”
“Gue peringatin ya kalo dia minta jalan bareng lagi jangan mau!”
“Tapi dia ngancem..” belum selesai Sifa bicara, Winda sudah memotongnya.
“Bilang aja lo juga suka sama dia, iyakan? Jujur aja! Gue mesti akuin cowo gue emang cakep dan banyak cewe yang naksir sama dia, sampe-sampe SAHABAT GUE SENDIRI bisa naksir sama dia” Winda menekan kata ‘sahabat gue sendiri’.
“Win, dengerin penjelasan gue dulu. Gue engga naksir sama dia, sumpah demi apapun deh. Itu juga gue cuma sekali kok jalannya” Winda beranjak dari tempatnya duduk, Sifa pun ikut berdiri.
“Halah, basi tau engga? Kalo sampe gue tau lo masih jalan sama dia lagi. Persahabatan kita putus!” Winda berlalu dari hadapan Sifa. Sifa terduduk lemas.
“Ya Allah cobaan apalagi ini? Hidup gue kok abstrak ya? Bangke!” Sifa menutup mukanya. Cewe itu sudah frustasi tingkat akut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar