Welcome to my blog =D

Di blog ini, aku naruh berbagai hasil karya aku bahkan sampai sedikit curhatan tentang keseharianku. Ku harap kalian suka membacanya ^^

Sabtu, 29 Desember 2012

Harus Berubah (Cerbung), by : TSM



Part 7
Setiba di sebuah kafe, mereka duduk di sudut ruangan. Sifa tetap tidak ingin bicara. Baru saja Rio ingin menyuruh Sifa bicara, ada seseorang memanggil namanya. Rio menoleh dan terbelalak saat mengetahui siapa orang itu, Sifa pun tak kalah kaget apalagi saat mengetahui sosok cowok di sebelah cewek itu.
“Kalian?” tanya Sifa dan Rio tidak percaya.
Kedua orang itu hanya tersenyum sinis. Sifa bergegas pergi dari kafe itu namun di tahan dengan seorang cowo dari masa lalu nya.
“Lepasin tangan dia” perintah Rio pada cowo tersebut. Tetapi diabaikannya perintah tersebut.
“Rioo… tolong gue. Iih.. Ridwan lepasin dong, sakit tau” rintih Sifa, dia mulai panik saat di tarik paksa Ridwan. Saat Rio ingin membantu, cewek yang memanggilnya ternyata Rianna teman kost Sifa sekaligus orang special di masa lalu nya. Rio terpaksa mengikuti kemauan Ria dan Sifa tetap di tarik paksa dengan genggaman tangan yang semakin kencang.

“Rio, aku senang banget pas tau kamu ada disini. Gak nyangka ya kita bakal ketemu lagi” ujar Ria dengan gaya centilnya. Rio hanya bergidik. Aneh, dulu di mata Rio sosok cewek seperti Ria bagaikan bidadari yang tersesat di bumi namun sekarang di mata nya sosok cewek seperti Ria amat sangat menjijikkan.
Di sisi lain.
“Aduh..” ringis Sifa saat tangannya di lepas dan di dorong ke sofa yang berada jauh dari tempat Rio dan Ria berada. Sifa mengelus pergelangan tangannya yang memerah. Perih rasanya. Ridwan duduk di sebelah Sifa dan mengangkat dagu Sifa agar dapat melihat wajahnya, namun Sifa memalingkan wajah, hatinya terlalu sakit walau sekedar melihat wajah rupawan mantan pacarnya.

“Aku gak bermaksud nyakitin kamu, Sifa. Maafin aku, please” ujar Ridwan lembut. Tak ada jawaban. Ridwan mencoba untuk sabar menghadapi mantan pacarnya. Sifa terus menunduk tanpa sedikit pun melirik Ridwan yang berada di sampingnya. Ridwan berusaha agar Sifa mau memandangnya tetapi tidak berhasil.

“Sifa, mau kamu itu apa sih? Aku udah minta maaf tapi kamu gak mau sedikitpun lihat aku” kesabaran Ridwan akhirnya telah habis, dia berkata dengan nada yang tidak bersahabat. Sifa kaget mendengar ucapan Ridwan dia langsung menengok dengan cepat.

“Lo kira maafin kesalahan lo tuh gampang apa?! ENGGA!! Lo udah lukain hati gue. Lo tuh PHP!!!” balas Sifa tidak kalah kasar. PLAKK!!! Astaga, apa yang telah dilakukan Ridwan. Dengan lancarnya dan tanpa sadar tangan kanan Ridwan dengan mulusnya mendarat di pipi kiri Sifa. Sifa langsung memegang pipinya yang mulai memerah dan perih, dia langsung bangkit berdiri.

“Oh, jadi gini cara lo minta maaf? Manis banget, ya. Tapi jangan harap gue bakal maafin lo” Sifa segera pergi. Rio yang melihat kejadian itu langsung berlari menuju Ridwan dan mengabaikan celotehan Ria. Setiba di hadapan Ridwan, dia segera meninju pipi Ridwan bertubi-tubi. Dia paling tidak terima melihat orang yang dia sayang disakiti seperti itu.

“Sekali lagi lo lukain Sifa. Gue engga segen-segen bunuh lo!! Camkan itu!” peringatan tegas keluar dari mulut Rio dengan lancarnya lalu dia segera menyusul Sifa. Dia terus berlari mencari Sifa. Namun, tidak ditemuinya. Dia pun pasrah dan kembali pulang ke rumah tantenya.
Sifa terus menangis di bawah pohon yang rindang. Mengingat masa lalu nya saat bersama dengan Ridwan, kebanyakan pahitnya daripada manisnya tetapi rasa sayangnya sangat besar bahkan sampai detik ini walaupun Sifa suka dengan Rio separuh hatinya masih mengharapkan kehadiran Ridwan di hatinya.

Semenjak kejadian itu, tekad Sifa semakin besar untuk berubah dan juga untuk menjauh dari Rio dengan bantuan kedua sahabat barunya, Dodo dan Gendis yang akan di jadikan tameng paling ampuh. Beberapa bulan semenjak tragedi di kafe itu, Sifa sengaja memadatkan waktunya. Dia mengikuti dua ekskul, kalau ada lomba dari sekolah ataupun luar sekolah dia akan mengikutinya, dan juga dia bekerja di salah satu restaurant untuk menambah uang jajan tanpa sepengetahuan keluarga dan orang-orang di sekolahnya.

“Fa, apa kamu gak capek begini terus?” Tanya Gendis dengan wajah prihatin.
“Maksudnya?” Tanya Sifa balik setelah meneguk setengah botol air minumnya. Dodo yang duduk di lantai menghadap Sifa dan Gendis hanya menjadi pendengar yang baik, kadang dia mengangguk atau menggeleng ketika ditanya, atau sesekali membenarkan posisi kacamatanya.

“Ya, terus-terusan menghindar dari masa lalu mu. Sampai ngebelain nyibukin diri. Ikut ekskul lah, lomba ini itu lah, bahkan sampai kerja di restaurant dan ngajar private anak sd” jawab Gendis dengan aksen Jawa nya. Dodo hanya mengangguk-angguk kepala mendengar penuturan Gendis, bertanda kalau dia setuju dengan ucapannya itu.

“Bukan menghindar tapi memperbaiki” sahut Sifa kemudian pergi meninggalkan Gendis dan Dodo. Mereka hanya geleng-geleng melihat tingkah sahabat barunya.

Sorenya Sifa bekerja di restaurant. Setelah berganti seragam sekolah menjadi seragam kerja, dia dipanggil BOS nya dan segera menghadap.
“Ada apa ya, bos?” Tanya Sifa dengan sopan.
“Malam Minggu besok ada acara, restaurant ini sepenuhnya sudah di sewa. Jadi, tolong kamu hias tempat ini seindah mungkin. Ohiya, acaranya birthday party anak remaja sepantaran kamu, ya” perintah bosnya dan Sifa hanya mengiyakan lalu permisi undur diri untuk melakukan pekerjaan.

“Sifaa…” salah satu teman kerjanya meneriaki nama Sifa. Sifa menoleh dengan kening mengkerut, saat melihat wajah kesal temannya itu.
“Kenapa sih?”
“Tuh ada pelanggan mau nya di layanin sama kamu” jawab temannya dengan kesal.
“Hah? Dia kenal gue? Kok bisa?” Tanya Sifa kaget.
“Ndak tahu. Tadi aku sampai adu mulut sama dia. Mesen makanan doang ribet banget” Sifa hanya tertawa geli mendengar jawaban temannya itu, lalu dia pergi menuju orang yang di maksud temannya.

“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” ujar Sifa dengan ramah sambil tersenyum manis. Saat orang itu menoleh sambil membalas senyuman, Sifa langsung berdiri kaku, senyumnya pudar dalam sekejap. Saat menyadari perubahan sikapnya, Sifa langsung mengembalikannya seperti semula. Dia memang orang yang sangat dekat dengannya di masa lalu, tapi disini dia sama dengan yang lain, sama-sama pelanggan yang harus dilayani dengan ramah dan penuh dengan senyuman.

“Bisa kamu duduk disini?” ujarnya sambil menepuk-nepuk sofa kosong di sebelahnya.
“Maaf, masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan. Bila tidak ada yang bisa saya bantu, saya permisi” jawab Sifa dengan ramah dan senyum yang dipaksa. Orang itu langsung bangkit dari duduknya.
“Sifa, aku minta maaf” ujarnya.
“Ridwan, denger ya. Kalau mau ngomong itu gak usah pake ganggu waktu kerja aku deh” setelah bicara seperti itu, Sifa langsung berlalu meninggalkan Ridwan.
“Rio… dengerin aku dong. Kamu gak kangen apa sama aku?” Ria dan Rio sedang berada di salah satu taman, sebelum tiba di taman mereka sempat bertengkar karena Rio tidak ingin keluar rumah tapi Ria memaksanya dan didukung tantenya Rio dan mau tidak mau Rio ikut Ria pergi ke taman. Rio tidak sedikitpun mendengarkan celotehan panjang lebar nya Ria, yang ada di fikirannya hanya Sifa seorang, sampai detik ini dia belum tahu alasan apa yang menyebabkan Sifa menjauhinya.

“Rio, kamu sayang gak sih sama aku? Hey, Rio” Ria menarik-narik lengan Rio dengan gemas. Rio melepas paksa tangan Ria.
“Dulu gue sayang sama lo, tapi sekarang engga” jawab Rio.
“Kenapa? Apa karena pertengkaran kamu dan kak Raka?” pertanyaan itu langsung membuat Rio terdiam dengan gigi yang bergemeretak, serta kedua tangan yang terkepal kuat.
“Jangan sebut nama dia di depan gue” ujar Rio geram. Ria langsung berdiri di hadapan Rio dengan wajah kesal.
“Kenapa sih sampai detik ini juga kalian belum bisa saling memaafkan?” Tanya Ria dengan nada yang tinggi. Rio menengadah kepalanya untuk melihat wajah Ria yang berada di depannya.

“Karena sampai detik ini kakak lo belum bawa Mey ke hadapan gue!!” jawab Rio. Ria berbalik badan, memunggungi Rio.
“Kapan sih kamu bisa ngelupain dan engga sebut nama dia? Kamu sadar gak sih selama ini ada sosok cewek yang dengan sabar nunggu kamu untuk balas rasa sayangnya?” Tanya Ria dengan suara pelan. Rio berdiri dengan posisi masih berada di belakang Ria.

“Bahkan sekarang, cewek yang belum lama kenal sama kamu malah dengan gampangnya bisa nguasain hati dan pikiran kamu tanpa perlu nunggu. Andai kamu ada di posisi aku. Hati ku udah hancur bagai serpihan kaca” Ria berbalik dan menatap tajam mata Rio setelah itu pergi menjauh meninggalkan Rio.

Rio terdiam, apa dia tidak salah dengar. Jadi, selama ini Ria benar-benar memberi harapan yang penuh ke dirinya? Bukan hanya sekedar gurauan, tapi memang benar suatu harapan yang besar dan dirinya hanya memberi sebuah harapan kosong yang diiringi dengan penantian tak berujung. Semasa kecil, selalu main bersama, dan Rio selalu menjahili Ria kalau sudah menangis langsung di belikannya balon yang banyak lalu main kejar-kejaran di taman, Ria yang manja ternyata benar tulus menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Kini Rio merasa sangat bersalah, dia menyesal karena selama ini tidak pernah memikirkan perasaan cewek itu.

Dulu di hati dan pikirannya hanya terukir nama Mey, menurutnya dulu Mey adalah sosok sahabat yang sangat spesial. Mey bisa mengerti perasaannya, dia selalu tau tempat persembunyiannya di saat sedang marah dengan orangtuanya. Mey selalu tau bagaimana cara membuat Rio kembali ceria. Mey selalu tau apa yang di mau dan tidak di mau Rio. Bagi Rio, Mey adalah nyawa keduanya, kalau Mey tak ada Rio pun demikian. Tapi semua sirna saat Mey mulai dekat dengan Raka, kakak Ria sekaligus sahabat Rio semasa kecil pula.

Mereka adalah Empat Sekawan semasa kecilnya sewaktu masih tinggal di Bandung, Raka yang paling tua di antara mereka berempat. Rio hanya menganggap Mey sebagai sahabat bahkan sudah di anggap saudara dekat, sedangkan Ria memang hanya sebatas sepupu, tidak lebih. Namun Raka menyayangi Mey lebih dari sekedar sahabat, Ria pun juga begitu menyukai Rio lebih dari sahabat. Rio dan Mey berpikiran sama, menurut mereka seumur mereka belum pas untuk saling menyukai lebih dari sahabat, itu sudah ada waktunya di kala mereka remaja nanti.

Raka bersikukuh ingin memiliki Mey. Saat Raka ingin bermain, dia mengajak Mey ke tempat spesial. Setiba di bukit tempat tujuan, hujan turun dengan derasnya. Mey sangat menyukai hujan karena sesudah hujan nanti pasti pelangi akan muncul, Raka pun demikian dan sejak saat itu mereka menamai bukit tersebut ‘Bukit Pelangi sesudah Hujan’ karena di tempat itu sesudah hujan pelangi dapat terlihat dengan jelasnya. Semakin hari mereka semakin dekat dan sering bermain kesana, sedikit demi sedikit Raka telah berhasil menjauhkan Mey dengan Rio.

Sampai suatu hari, di hari ulangtahunnya Raka merayakan ulangtahunnya di bukit tersebut hanya bersama Mey. Dia bertekad ingin mengungkapkan perasaannya selama ini. Tepat di saat ingin bicara, hujan turun. Mereka saling berhadapan dengan badan yang basah kuyup, Mey tampak bahagia karena di siram air dari langit dengan derasnya.

“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Mey dengan mata tertutup dan tangan yang menengadah ke atas, merasakan tetes demi tetes butiran air yang turun membuatnya tersenyum geli. Raka terlihat gugup.
“Aku..aku..”
“Ya, kamu kenapa?” Tanya Mey mulai gemas dengan perubahan sikap Raka yang mendadak.
“Aku suka sama kamu” ujar Raka akhirnya dengan susah payah, dia berujar dengan mata dipaksakan menatap wajah Mey, untuk mengetahui bagaimana reaksinya kemudian. Mey sangat terkejut, dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi dengan cepatnya dan lebih terkejutnya orang pertama yang mengucapkan kalimat itu bukan orang yang dia suka. Mey menundukkan kepalanya dan menggeleng kuat sambil tersenyum pahit.

“Maaf” ujarnya lirih. Raka tetap memperhatikan Mey. Mey menegakkan kembali kepalanya.
“Selama ini, aku cuma nganggap kamu sebagai sahabat sekaligus kakak aku, engga lebih” ujar Mey kemudian berlari meninggalkan Raka yang berdiri kaku, tak perduli kini jalan sedang licin, Mey tetap berlari menuju rumah Rio. Setiba di depan rumahnya, Mey hanya tertunduk, tak tahu harus berbuat apa. Dia hanya berdiri kaku. Rio membuka jendela kamarnya dan melihat Mey berada di pekarangan rumahnya dengan badan yang basah kuyup, Rio segera mengambil payung untuk melindungi Mey.

“Kan sudah dibilang, jangan main hujan-hujanan. Nanti kalau kamu dimarahi kak Arya gimana?” omel Rio setiba di hadapan Mey. Mey tetap diam dan hanya menatap Rio lekat-lekat.

“Kamu kenapa sih? Aneh banget deh” merasa tak ditanggapi omelannya, Rio kembali bicara dengan kening mengkerut. Mey menggeleng lemah sambil tersenyum pahit kemudian berlari begitu saja meninggalkan Rio yang keheranan.

Mey terus berlari tanpa tujuan yang pasti. Dia tidak menyangka hal ini benar terjadi dengan cepatnya. Karena lelah berlari, Mey berhenti di bawah sebuah pohon besar dan ternyata di pohon itu terukir nama ‘Yanna dan Iyo’, yang dibuat olehnya dan Rio beberapa tahun yang lalu. Di elusnya ukiran tersebut dengan airmata yang terus mengalir dengan derasnya sama seperti hujan yang kini sedang mengguyur kota Bandung.

“Maafin aku, Rio. Aku sudah ingkar janji. Kini, perasaanku ke kamu lebih dari sekedar sahabat, maafin aku, Iyo, maaf” ujarnya lirih sambil terus menatap dan mengelus ukiran pohon tersebut.

“Tadi, kak Raka nembak aku. Tapi engga aku terima, karena aku maunya kamu yang pertama ngomong gitu ke aku kalau sudah besar nanti..hiks..hiks..”
“Ta..tapi.. aku sadar kok umurku engga akan lama. Dan kita ga akan bisa bersatu” Mey menangis sesenggukkan.
Mey dan Arya sedang bersiap-siap untuk berlibur ke Yogya. Segala keperluan sudah di kemas dengan sangat rapih.
“Kakak, cepetan kenapa sih”
“Sabar dong, Yanna sayang” Mey melipat kedua tangannya di depan dada dengan mulut yang di manyunkan, menunggu kakaknya memasukkan beberapa koper ke dalam mobil.
“Udah yuk berangkat” ajak Arya sambil tersenyum manis dan menggiring adiknya masuk ke dalam mobil.
“Bi, kami berangkat ya. Babay…”
Sepanjang perjalanan suasana di mobil hening. Karena terlalu semangat berkemas, Mey baru tidur pukul 2 pagi dan sekarang dia sedang tertidur pulas.
Waktu yang sama, tempat berbeda. Sifa sedang merenung sendiri di taman sambil sesekali mengayunkan ayunan yang di naikinya. Dia tidak tahu harus berbuat apalagi, sudah beribu alasan dia gunakan untuk menghindari mereka. Dan sekarang dia baru merasakan betapa lelahnya seperti ini. Kedua sahabatnya juga tak kunjung memaafkannya. Suara HP bertanda ada panggilan masuk, membuyarkan lamunannya.
“Hallo, Sifa apa kabar?” Tanya orang di sebrang.
“Hai, emm.. sorry lo siapa, ya?”
“Aku Ardi, ini nomer adikku”
“Oh. Ngapain lo nelfon gue?” Tanya Sifa super jutek.
“Kamu kemana aja? Gak ngasih kabar sama sekali. Aku khawatir”
“Hah? Khawatir? Eh, gue tuh bukan siapa-siapa lo. So, mending lo khawatirin pacar lo aja!! Jangan gue!!” Sifa langsung memutuskan telfonnya. Dia marah-marah sendiri.
Hari mulai gelap, matahari telah kembali ke peraduannya. Sifa juga segera kembali ke kost-an nya.
Setiba di kost-an, dia mendapat surat, kado, dsb dari teman-temannya yang katanya mereka tidak tahu siapa pengirimnya. Sifa sampai kerepotan membawanya di kamar, setibanya di kamar, langsung dilemparkan begitu saja surat dan kado-kadonya. Dia mulai membukanya satu per satu.
~ Senyumanmu mengalihkan duniaku, Sifa. Love you…
~ Sifa, kamu perempuan yang sempurna di mataku dari sekian perempuan yang ku temui.
~ Aku Cinta Kamu, Sifa.
          ~ Banyak bunga layu, karena kamu…
  Daun kering berjatuhan, karena kamu…
 Burung-burung berhenti berkicau, karena kamu pula…
 Mereka semua cemburu sekaligus kagum akan pesona yang kamu bawa
Your secret admire
Dan surat-surat lainnya….
“Eh, buset gak salah nih orang. Ngasih gue cincin?? Ckckc…” Sifa geleng-geleng kepala sendiri melihat isi kado yang di dapatnya. Padahal hari ini bukan hari ulangtahunnya atau tanggal-tanggal yang berkesan baginya.
Dia membuka kado yang bungkusnya paling sederhana dari yang lain. Saat di lihat, sebuah bola Kristal yang di dalamnya terdapat taburan bintang-bintang berkilau dan sepasang kekasih sedang berdansa, tidak hanya itu di dalam kado yang berbungkus sederhana itu juga ada kalung yang berliontin sepasang bintang kecil dan besar. Tanpa sadar Sifa tersenyum dan langsung saja memakai kalung tersebut.
Sifa jalan-jalan sendiri di gelapnya malam, dia bosan berada di kost-an, lagipula kini dia dikamar hanya sendiri, Ria sudah tidak disana lagi. Sifa mampir di café tempat biasa dia bergalau ria malam hari seperti ini.
“SIFAAA…..” teriak Mey saat melihat Sifa sedang mengaduk-aduk hot cappuccino dan pandangannya yang kosong. Sifa tersentak kaget.
“Mey” ujarnya pelan, namun tak kalah girang, mungkin terlalu terkejut sampai-sampai hanya dapat berdiam diri menanti Mey yang menghampirinya.
“Aku kangen banget sama kamu, Sifa” ujarnya sambil memelukku erat, Sifa balas memeluknya, pelukan hangat seorang sahabat yang wajahnya sangat mirip dengan Sifa.
“Hay, Sifa. Gimana kabar lo?” Tanya Arya.
“Baik, kak.” Jawab Sifa singkat, mereka duduk dan berbincang-bincang. Sifa dengan sabarnya mendengarkan cerita panjang lebarnya Mey, tanpa sepengetahuan Sifa, Arya tak hentinya memandangi wajah rupawan yang ternyata mampu membuat hatinya luluh dan merana menahan rindu yang maha dahsyat.
“Sifa, besok kita jalan yuk. Aku kan datang kesini spesial buat kamu. Mau ya? Mau ya? Please….” Pinta Mey.
“Besok kan gue sekolah, Mey”
“Yaudah, kalo gitu pulang sekolah. Bisa, kan? Bisa lah ya”
“Iya deh. Daripada gue habis di amuk sama lo, Mey.” Jawab Sifa pasrah dan sedikit meledek Mey. Arya menyetujui ucapan Sifa.
“Iiihh, Sifa rese banget sih. Aku kan anak baik”
“Iya, lo baik kok, Mey. Tapi kalo otaknya lagi korslet aja” sahut Arya, sehingga membuat Sifa tertawa geli.
Seperti biasa Sifa berangkat sekolah bersama Dodo, naik sepeda kesayangan Dodo. Mereka selalu mengambil jalur yang berbeda setiap harinya, agar tidak bosan. Hari ini mereka memilih jalan yang ada turunan nya, ini yang paling di suka Sifa, karena sensasi turunan saat bersepeda itu sangat WAW, Sifa jadi punya alasan untuk berteriak kegirangan.
Setiba di sekolah.
Di depan kelas sudah ada Raka dan Rio yang setia menunggu kedatangan Sifa, perempuan yang telah membuat mereka gila. Sifa mulai panik, namun semampu mungkin dia mencoba menutupinya. Dia berjalan dengan santainya, seolah-olah tak ada mereka disana. Saat dia ingin masuk kelas melewati mereka berdua, kedua tangannya ditahan.
“Apa-apaan sih? Gue mau masuk kelas kali” Sifa mencoba masuk lagi namun tetap di tahan.
“Pulang sekolah bareng kami” perintah Raka singkat. Rio hanya menatap Sifa sok sangar namun kelihatan banget kalau dia tidak sanggup memendam perasaan rindunya pada Sifa.
“Bareng kalian? Idih, ngapain amat. Lagi gue juga udah ada janji sama temen”
“Siapa?” selidik Rio.
“Kepoo” semakin Sifa berusaha masuk kelas, semakin keukeh mereka berdua nahan Sifa.
“Siapa?” selidik Raka, mempertegas pertanyaan awal Rio.
“Masa yang lain boleh masuk kelas, gue engga sih. Apes banget sih jadi gue. Ya Allah kenapa nasibku begini amat??” ratap Sifa yang membuat Rio hampir saja tertawa melihat ekspresi wajah Sifa.
“Sekali jawab, lo boleh masuk”
“Oke oke gue kasih tau. Janji sama Mey dan kak Arya. PUAS???” mereka berdua tersentak mendengar nama yang disebut tadi. Sifa dengan perasaan yang tanpa dosa, langsung saja masuk ke dalam kelas dan tidak menyadari perubahan wajah Raka dan Rio.
Sepulang sekolah. Arya dan Mey sudah menunggu di depan sekolah.
“Cantiikk…” teriak Sifa memanggil Mey.
“Maniiss…” balas Mey pada Sifa.
“Para nona, sudah siap berwisata keliling?” Tanya Arya.
“SIAP, PAKK!!!” jawab mereka kompak. Arya hanya tersenyum tipis.
Dari kejauhan Raka dan Rio terus memantau mereka bertiga dan membuntuti kemanapun mereka pergi. Dari sisi lain pun, Ridwan dan Ria tak mau ketinggalan juga. Ardi yang berada di Jakarta, tak hentinya mencari informasi tentang Sifa.
Sifa dan Mey serta Arya pergi ke salah satu butik untuk membeli pakaian. Sifa dan Mey sengaja membeli pakaian yang sama, untuk mengecoh Arya dan orang lain. Mereka memilih short dress batik, setelah itu mereka langsung menuju salon untuk mempercantik 2 cewek kembar namun beda orangtua.
Setelah semuanya selesai, Mey dan Sifa berniat mengecoh Arya.
“Kakak, matanya aku tutup ya dan gak boleh ngintip” ujar Mey.
“Mau ngapain?” Tanya Arya berniat menolak perintah adiknya.
“Kita mau ngetes kakak” jawab Sifa.
“Jadi gini, kita mau ngetes. Kalau aku sama Sifa lagi menyatu, kira-kira kakak lebih milih siapa, aku atau Sifa”
“Benar. Karna mata nya ditutup jadi yang nentuin kakak jalan ke arah mana itu hati dan pikiran kakak yang lagi mikirin siapa” sambung Sifa.
“Pasrah deh gue. Suka-suka kalian” Sifa dan Mey mulai menutup mata Arya dan memutarnya. Arya jalan dengan pelan sambil meraba-raba. Mey melotot maksimal melihat kakaknya jalan menuju Sifa, bukan dia yang notabane adik kandungnya, jahat sekali. Sifa juga tertegun saat Arya sudah ada di depan nya dan meraba wajahnya lalu merangkulnya.
“Ini pasti little princess gue” saat Arya buka matanya dia terkejut melihat Sifa lah yang dia rangkul sedangkan adiknya menatap tajam ke arahnya.
“Ih, kalian bikin aku envy!! Nyebelin!! Kakak lebih milih Sifa. Kakak suka sama dia ya?” todong Mey, membuat Sifa dan Arya gelagapan.
Rio yang masih memantau sangat geram melihat pemandangan tidak menyenangkan di hadapannya. Rio menggigit ujung lengan kemeja Raka.
“Eh kira-kira dong lo kalo kesel, gak usah pake gigit lengan kemeja gue!” omel Raka.
“Yaa sorry” sahut Rio pelan.
Mereka bertiga asik berkeliling, Mey yang sibuk memotret sana-sini, berjalan lebih dulu dari Sifa dan Arya. Senyum ceria sepanjang hari ini tak pernah sirna menghiasi wajah rupawan Mey. Arya membeli sebuket bunga mawar merah dan memberikannya ke Sifa, dia menerimanya sambil tersenyum manis. Rio yang melihat dari kejauhan semakin geram. Raka menatapnya iba, cowok yang kelihatannya super cuek ternyata bisa heboh sendiri hanya karena satu cewek.
“Lo bisa tenang gak sih?” Tanya Raka, agak risih dengan tingkah Rio saat ini.
“Engga! Selama sih Arya masih di samping Sifa”
“Jadi cinta lo sepenuhnya udah berpaling ke Sifa nih? Engga ada rival lagi berati gue, ya” ujar Raka bangga.
“Iya. Apakata lo aja!”
“Aaaa…. Sifa jangan mau deket-deket dia!! Anjrit.. panas hati gue panas” Rio mukul tembok, heboh sendiri lah pokoknya sampai-sampai para wisatawan yang berlalu-lalang keheranan melihatnya.

Arya memandang wajah Sifa lebih dekat dan memberanikan diri tuk merangkulnya. Sifa memandang Arya terkejut, namun dia hanya tersenyum simpul.

“Ciee…. Kakak aku suka sama Sifa. Haha” Mey berhasil mengabadikan gambar mereka berdua yang sedang berjalan dengan Arya yang merangkul Sifa dengan mesra nya. Mey sengaja menjauh dari mereka berdua, memberi ruang agar bisa lebih dekat. Kesempatan emas untuk Raka menghampiri Mey. Sedangkan di sisi lain nya lagi, Ridwan terlihat menahan api amarah di hatinya yang sudah meletup-letup, begitu pula Ria yang melihat Sifa dan Mey mengingatkan dia pada sosok Rio yang lebih memilih mereka dibanding dirinya.

Mey dengan santainya berjalan sendiri, sambil mencari objek untuk dipotret. Saat Mey ingin mengambil gambar, terlihat wajah Raka di kamera tersebut sehingga Mey membatalkan keinginannya. Dia sangat terkejut.
“Rak..ka?” Tanya nya gugup. Seketika pikirannya melayang ke masa kecil nya dulu. Raka mengangguk dan tersenyum, dia senang akhirnya dapat bertemu dengan Mey juga.
“Ada waktu buat ngobrol?” Tanya Raka santai, menutupi hatinya yang sedang merinding disco.
“Ada” jawab Mey singkat. Di sisi lain, Rio menghampiri Sifa dan Arya yang sedang bercanda. Sifa memakaikan kacamata gaya warna hitam secara terbalik pada Arya, Arya mencubit pipi Sifa dan mengejek Sifa kalau otaknya terbalik. Sifa balas mencubitnya dan tertawa lepas. Namun Rio menghancurkan kesenangan tersebut.
“Rio? Lo kok ada disini?” Tanya Sifa bingung. Arya melihat Rio, sangat terkejut, orang di masa lalu nya.
“Gue buntutin lo dari pulang sekolah sampe sekarang” jawabnya yang membuat Sifa agak sedikit kesal.
“Gue mau lo maafin gue, fa. Itu doang, gak lebih. Pleaseee…” lanjutnya lagi. Sifa berfikir sejenak. Arya membuka suara sehingga membuat Sifa mendongakkan kepalanya menatap Arya.
“Lo Satrio Dhika Bagasta, kan? Anak cowok yang dulu tulus sayang sama adik gue, Meiyaras?”
“Ka Ar..ya?” Tanya Rio mulai panik mendengar penuturannya, dia takut kalau Sifa semakin marah padanya. Sifa menatap Arya dan Rio secara bergantian.
“Rio, sorry kami pergi tanpa pamit lo”
“Gue terlalu emosi. Gue fikir lo penyebab penderitaan Mey, ternyata gue salah. Sorry udah misahin kalian” Rio tak berkata apapun, dia hanya melirik Sifa tanpa sepengetahuan mereka berdua.
Sifa sama sekali tidak mengerti sama jalan hidupnya yang sekarang. Memang pada awalnya semua lancar terkendali namun kenapa semakin kesini semakin abstrak dan tidak karuan ditambah lagi dengan orang-orang baru yang ditemuinya ternyata saling terkait satu sama lain, ternyata benar kata orang bahwa hidup itu sempit seperti daun kelor. Sifa tidak tau harus bicara apa, dia sama sekali tidak bisa mempercayai setiap urutan cerita masa lalu mereka, yang menyangkut Arya, Rio, Mey, Ria, dan Rakka.
Hening. Tak ada suara dari mereka bertiga. Sifa bangkit berdiri dan pergi begitu saja tanpa ada yang bisa menghalanginya, Rio dan Arya mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
Di sisi lain, Mey juga merasakan hal yang sama dengan Sifa. Sekian tahun tak berjumpa dengan Rakka, takdir kembali menemukan mereka dengan orang-orang yang utuh seperti di masa lalu nya. Mey mengalihkan pandangannya ke beberapa foto hasil jepretannya, dia masih ingat jelas bagaimana kejadian di bukit saat hujan itu, karena itu Arya membawanya secara paksa pergi dari Bandung meninggalkan semuanya tanpa pamit.
Rakka mencengkram erat pundak Mey seolah menahannya agar tidak pergi lagi dari hidupnya, terlalu sakit menahan semuanya ini. Mey masih tidak berani menatap mata Rakka.
“Mey, please kasih gue kesempatan buat ngisi ruang hati lo” Rakka bersimpuh di hadapan Mey. Rakka terus menerus memohon, Mey tak sanggup mendengarnya. Rakka berdiri dibantu Mey.
“Maaf, sampai detik ini pun aku masih belum bisa. Maafin aku, akuu…” Mey berlari menjauh dari Rakka. Tak sanggup melihat wajah melas Rakka.
Hampir seminggu Sifa tak banyak bicara dan selalu menghindar setiap kali bertemu Rio dan Rakka. Dia juga menjadi sosok wanita yang mendadak sangat penurut dan tidak membuat onar, justru dia sangat displin mengalahkan murid-murid culun yang sering jadi bahan ledekannya.
Rakka tidak menggubris setiap omelan Pembina OSIS, pikirannya melayang-layang jauh ke masa kecil nya, masa dimana dia telah menghancurkan semuanya, terutama kebahagiaan Mey, perempuan yang sangat disayang nya.
“RAKKA, apa sih yang sedang kamu pikirkan? Saya kecewa sama kamu, seminggu terakhir ini banyak yang berubah darimu. Ada apa denganmu? Ada masalah? Ceritalah sama bapak. Saya kan orangtua mu juga”
“Gak ada, pak. Kalau hanya itu yang dibicarakan, saya permisi dulu” Raka tersenyum singkat kemudian keluar dari ruangan Pembina OSIS nya.
Rio terus mendribel bola nya di bawah terik mentari yang sangat menyengat, mungkin dapat membuat kulit gosong habis terbakar. Dia hanya mengenakan kaos putih polos yang sangat pas dengan badannya sehingga menunjukkan bagaimana postur tubuhnya, tak perduli tatapan sekitar, terutama para perempuan yang memandang takjub badannya yang terlihat sixpack. Pengecualian untuk Sifa, dia hanya melihat sekilas kemudian melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Rio sangat menyadari perubahan sifat yang sangat drastis pada perempuan manis pujaan hati nya. Rio menghela nafas pasrah, tak tahu harus seperti apa lagi kemudian hari.
Di dalam mobil, Arya bersandar di jok. Seminggu terakhir ini dia tidak dapat tidur nyenyak, mungkin kalau dihitung-hitung selama 7 hari ini, dia hanya tidur 5 hari dan itu juga tidak sepenuhnya tertidur dengan nyenyaknya. Sekarang wajahnya sangat lesu. Dari kejauhan terus di pantaunya gerbang sekolah dimana berada Rakka, Rio, dan Sifa. Berharap dapat melihat Sifa keluar dengan senyuman yang mengembang dengan manisnya.
Sedangkan tanpa sepengetahuan yang lain, Mey masuk rumah sakit karena sakit nya kumat lagi. Terlalu banyak pikiran dan juga dia jadi jarang sekali makan bahkan sehari pernah sama sekali tidak makan.
Arya, Rio, dan Rakka bahkan Ridwan tanpa janjian satu sama lain, datang menghampiri kost-an Sifa.
“Yaah kalian telat. Sifa nya udah ke Jakarta dua hari yang lalu” kata salah satu temannya yang bernama Ani. Mereka empat cowok kece langsung terdiam mendengar berita itu.
“Ngapain ya dia ke Jakarta?” Tanya Ridwan.
“Dia hanya bilang ada urusan penting, tapi dia gak mau ngasih tau. Rahasia, begitu katanya” jawab Ani.
Mereka berempat terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Dan akhirnya Rio mencetuskan satu ide cemerlang.
“Nyusul aja ke Jakarta. Kangen banget gue sama dia”
“Kangen? Jadi lo udah berpaling dari ade gue?” Tanya Arya sengit
“Kangen seorang teman, kak. Itu maksudnya” jawab Rio yang sebelumnya gelagapan.
“Oh. Kalian duluan aja, gue nyusul nanti. Masih ada urusan” Arya segera meninggalkan mereka yang tersisa, 3 cowok kece.
Sifa ketiduran di samping mama nya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Dia terlalu lelah menjalani semuanya. Kenapa cobaan terus-menerus menghantam dirinya?
Sampai dia kembali terbangun pun, mama nya masih belum sadarkan diri.
“Kenapa semuanya jadi begini? Aku mohon mama bangun, jangan bikin aku gelisah gini, ma. Aku gak sanggup liat mama begini”
“Maafin aku udah banyak nyusahin mama. Maafin aku yang udah bohong besar sama mama. Maafin Sifa ma… maafin Sifa…” tangisnya pecah. Sudah cukup dia menahan airmata yang ingin keluar sejak lama. Tangan yang hangat mengusap lembut pipi Sifa yang sudah basah.
“Ardi?” suara Sifa nyaris tak terdengar.
            “Keluar yuk” ajaknya lembut. Sifa menurut, dia tidak berniat untuk memarahinya.
            Setiba di restaurant tak jauh dari rumah sakit tempat mama nya di rawat, Ardi menemani Sifa makan. Dia tau pasti perempuan ini belum makan sejak kemarin.
            “Ardi, aku minta maaf atas semuanya. Seharusnya aku gak perlu marahin kamu sampai segitunya. Aku terlalu emosi. Aku gak nyangka kalau kamu sebaik ini” ujarnya sangat lemah. Ardi mengelus lembut tangan Sifa yang dingin dan menatap wajahnya, tatapan sayu, kantung mata yang mulai menghitam, bibir kering, kulit putih pucat, sepertinya Sifa terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
            “Ohiya, kamu tau darimana kalau aku disini?”
            “Aku yang nganter mama kamu”
            “Makasih banget, ya. Jadi ngerepotin banget”
            “Santai aja lagi” Ardi terus menatapnya sambil tersenyum tulus.
            Sifa memaksa dirinya untuk tersenyum, walau sulit. Dia membalas tatapan yang selama ini dihindarinya. Ardi masih saja menggenggam tangan Sifa.
            “Kaya nya kamu harus istirahat deh. Muka kamu pucat banget” Ardi menganjurkan. Sifa hanya mengiyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar